Wakaf tak Boleh Dijual atau Dijaminkan

by

KENDAL – Harta benda wakaf yang sudah diwakafkan dilarang dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar dan dialihkan dalam bentuk pengalihan lainnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Muhammad Hafidh yang merupakan praktisi hukum dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jawa Tengah beberapa waktu lalu dalam seminarnya di Kendal terkait wakaf.

Ia menjelaskan, wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Sedangkan wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya. Sementara itu ikrar wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan/atau tulisan kepada Nashir untuk mewakafkan harta benda miliknya .

“Dalam UU nomor 41 tahun 2004 pasal 1 ayat 1,2, dan 3 dijelaskan tentang wakaf dan segala sesuatu yang mengaturnya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan ada beberapa peruntukan harta benda wakaf berdasarkan tujuan dan fungsinya seperti sarana dan kegiatan ibadah, sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan, bantuan kepada fakir miskin anak terlantar, yatim piatu dan bea siswa. Ada pula untuk kemajuan dan peningkatan ekonomi umat dan kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah. Sehingga harta benda wakaf peruntukannya untuk kepentingan umum atau umat namun jika harta benda yang diwakafkan untuk kepentingan pribadi namanya warisan.

“Harus dibedakan antara wakaf dan warisan sehingga peruntukannya tepat sasaran,” imbunya.

Ia menuturkan bahwa benda berberak yang dapat diwakafkan antara lain harta benda yang tidak dapat habis dikonsumsi meliputi logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan lainnya. Sementara benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan. (fik)

Penulis: Akhmad Taufik | Radar Pekalongan
Redaktur: Widodo Lukito