Pupuk Bersubsidi Semakin Dipangkas

oleh -
RAKOR - Rapat koordinasi KP3 dalam rangka penyampaian implementasi Permentan No 10 Tahun 2022 di Aula Kantor Bupati Batang, Kamis (29/9/2022).

*Dampak Penerapan Permentan 10/2022

BATANG – Kebijakan tentang pupuk bersubsidi dipastikan semakin terbatas menyusul diberlakukannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian. Bukan hanya alokasi kuota, melainkan jenis pupuk hingga komoditas tanaman yang mendapatkan subsidi juga semakin dipangkas.

Hal itu terungkap saat Rakor Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) sebagai penyesuaian atas semakin terbatasnya anggaran untuk pupuk, Kamis (29/9/2022), di Aula Kantor Bupati Batang.

“Dari sisi jumlah, pupuk bersubsidi ada pengurangan. Kemudian, pengawasan yang harus kita lakukan juga tambah berat, karena penggunaan pupuk bersubsidi bukan hanya di sektor pertanian saja, akan tetapi sekarang masuk kepada komoditi,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Batang, Supardi.

Diketahui, Permentan 10/2022 yang diundangkan pada 8 Juli 2022 ini mengatur beberapa ketentuan baru seperti mengenai jenis pupuk subsidi yang difokuskan hanya pada urea dan NPK dari yang sebelumnya termasuk SP-36, ZA, dan organik.

Selain itu, jumlah komoditas yang mendapat subsidi pupuk pun menjadi sembilan tanaman dari yang sebelumnya sekitar 70 komoditas. Sembilan komoditas ini masuk dalam tiga subsektor pertanian, yaitu tanaman pangan untuk padi, jagung, dan kedelai; subsektor hortikultura untuk tanaman cabai, bawang merah, dan bawang putih; dan subsektor perkebunan untuk tanaman tebu rakyat, kakao, dan kopi.

“Pupuk merupakan sarana produksi yang sangat menentukan dalam pencapaian produksi pertanian nasional. Oleh karena itu, harus tersedia sesuai dengan prinsip tepat mutu, jumlah, jenis, harga, waktu dan tempat. Selain itu, petani juga tetap berhak mendapatkan pupuk subsidi, jika tanahnya masih ditanami dan memproduksi tanaman untuk ketahanan pangan,” jelasnya.