Hadapi Ancaman Banjir, Pekalongan Butuh Kebijakan Transformatif

oleh -
IALOG - Mercy Corps Indonesia (MCI) dan Ikatan Ahli Perencanaan Jawa Tengah (IAP Jateng) menggelar kegiatan dialog bertajuk ‘Masa Depan Pekalongan: Konsekuensi dari Tiap Kebijakan dan Tindakan’.

KOTA – Sebagai wilayah pesisir, Kota dan Kabupaten Pekalongan perlu membangun ketahanan wilayahnya dalam menghadapi ancaman banjir. Kunci utamanya melalui perumusan kebijakan yang transformatif. Hal ini menjadi pembahasan utama Dialog Kebijakan yang diselenggarakan oleh Mercy Corps Indonesia (MCI) dan Ikatan Ahli Perencanaan Jawa Tengah (IAP Jateng) bertajuk ‘Masa Depan Pekalongan: Konsekuensi dari Tiap Kebijakan dan Tindakan’.

Kegiatan dilaksanakan Rabu (21/9/2022) di Hotel Aruss Semarang dan dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo selaku dan Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq serta perwakilan dari elemen pemerintah daerah, akademisi, praktisi dan NGO.

“Perlu ada visi yang jelas dalam mengimplementasikan strategi penanganan banjir rob, karena kalau permasalahan rob itu dari mana, kita semua sudah tahu ada land subsidence, pemanasan global, kenaikan muka laut. Kita harus memilih, apakah kita mau adaptasi, membangun infrastruktur, atau memindahkan aktivitas (yang terkena dampak banjir),” jelas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Banjir adalah isu yang telah terjadi selama bertahun-tahun di Kota dan Kabupaten Pekalongan, dengan kerugian yang sangat signifikan. Studi MCI yang dilakukan di tahun 2020 memprediksi bahwa kombinasi dari faktor iklim dan non-iklim akan meningkatkan tingkat risiko dan kerugian banjir di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Lebih dari 5,700 Ha wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan diperkirakan akan tergenang akibat banjir di tahun 2035, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp31,28 triliun per tahun di tahun yang sama, atau 20 kali lipat dari kerugian tahun 2020.

“Strategi penanganan banjir konvensional tidak bisa lagi diterapkan, sehingga diperlukan semangat transformatif dan kolaboratif perlu melandasi langkah pembangunan wilayah ke depannya. Kami memandang kerjasama antar daerah dan kolaborasi multipihak menjadi pintu gerbang menuju penanganan banjir yang lebih berkelanjutan dan efektif dari segi pembiayaan,” tutur Direktur Eksekutif MCI, Ade Soekadis.