Kasus Guru Cabul Bisa Pecahkan Rekor

oleh -
REKONSTRUKSI - Direskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Djuhandhani Rahardjo Puro didampingi Kapolres Batang AKBP M Irwan Susanto melakukan proses rekonstruksi.

*Dinas, Sekolah dan Ortu Diminta Makin Peduli

BATANG – Kasus pencabulan puluhan siswi yang dilakukan di sebuah SMP di Gringsing, Kabupaten Batang, dinilai layak menjadi perhatian semua pihak. Terlebih, dengan jumlah korban yang mencapai angka 40, kasus ini berpeluang memecahkan rekor kejahatan seksual di lingkungan pendidikan.

“Kasus pencabulan di Batang ini bisa dikatakan memiliki korban terbanyak. Karena seperti disampaikan Polres Batang, perkembangan jumlah korbannya kan mencapai 40 siswi. Ini jelas rekor,” ungkap anggota Komisi B DPRD Batang, Sidqon Hadi, Selasa (20/9/2022).

Melihat tren kasus kejahatan seksual di lingkungan pendidikan di Indonesia, lanjut Sidqon, ada dua kasus yang cukup menyita perhatian publik nasional. Pertama kasus pencabulan santri di Jombang, dan kedua yang paling viral yakni kasus Heery Irawan di Bandung, pemilih sebuah pondok tahfidz yang diduga merudapaksa belasan santriwatinya.

“Kasus pencabulan di Batang ini layak menjadi perhatian nasional, karena selain juga terjadi di lingkungan pendidikan, jumlah korbannya juga cukup spektakular. Perhatian di sini tentu dalam ikhtiar membenahi bersama agar lingkungan pendidikan maupun pesantren bisa terbebas dari kasus serupa di masa depan. Tentu ini oknum, tetapi kita semua layak belajar dari kasus ini,” jelas Sidqon.

Menurut dia, kasus pencabulan dengan tersangka oknum guru Agama ini perlu menjadi pemantik seluruh stakeholder pendidikan untuk melakukan evaluasi bersama. “Sekolah, Dinas Pendidikan, orang tua, dan seluruh stakeholder lainnya harus peduli terhadap masalah ini. Karena ini menyangkut nasib generasi masa depan bangsa. Kedua, seringkali kasus kekerasan seksual justru terjadi di lingkungan yang dianggap aman, dan pelakunya adalah orang yang dekat dengan korbannya,” terangnya.