Alhamdulillah, Harga Gabah Tembus Rp 550 Ribu

oleh -
HARGA NAIK - Musim panen tahun ini, petani padi diuntungkan dengan harga gabah yang rata-rata di atas Rp 500 ribu per kuintal.

KENDAL – Tidak hanya tembakau, harga panen padi juga sedang berpihak ke petani. Saat ini harga gabah rata-rata di atas Rp 500 ribu per kuital, naik dibanding tahun lalu yang mentok di angka Rp 470 ribu.

Salah seorang petani di Desa Sukolilan, Kecamatan Patebon, Mahmud mengatakan, saat ini harga gabah dari sawah rata-rata di atas Rp 500 ribu per kuintal atau naik dari tahun lalu yang hanya sekitar Rp 470 ribu per kuintal. Naiknya harga gabah tahun ini, karena masa panen bertepatan dengan musim kemarau, sehingga gabah lebih cepat kering dijemur.

“Panen pada musim penghujan, otomatis pengeringan lebih lama, sehingga bagi pembeli gabah akan menambah biaya tenaga penjemuran. Makanya untuk menutupi biaya tenaga penjemuran, sehingga pembelian gabahnya dimurahkan,” katanya, Kamis (15/9/2022)

Naiknya harga gabah tahun ini juga diakui Abdul Syukur, penebas gabah di Desa Wonotenggang, Kecamatan Rowosari. Harga gabah tahun ini sekitar Rp 520 ribu per kuintal, sedangkan harga gabah tahun lalu rata-rata hanya 480 ribu per kuintal. Namun hasil panen tahun ini berkurang dibandingkan tahun lalu. Penyebabnya karena tidak menggunakan pupuk ZA yang baik untuk tanaman padi.
“Pupuk ZA yang bersubsidi kan tidak ada jatahnya, kalau yang nonsubsidi itu mahal,” ungkapnya.

Demikian pula Harni, petani di Desa Sendangdawuhan, Rowosari, menurutnya harga gabah tahun ini bisa mencapai Rp 550 ribu per kuintal. Katanya, harga gabah juga tergantung dari alat mesin untuk memanen. Padi yang dipanen dengan mesin, harga gabahnya lebih tinggi dibandingkan jika dipanen secara manual.
“Kalau panennya pakai mesin combine itu harganya lebih tinggi, bisa Rp 550 ribu per kuintal, tapi kalau panen pakai alat biasa itu harganya lebih rendah,” terangnya.

Padi yang dipanen dengan mesin, harga gabahnya bisa mencapai Rp 550 ribu per kuintal, sedangkan jika dipanen secara manual, maka harganya paling tinggi Rp 540 ribu per kuintal. Hal ini karena memanen dengan mesin biayanya lebih ringan dibandingkan panen secara tradisional dengan tenaga manusia. (lid)