Warga Sulit Nikmati BBM

oleh -
TAK ADA SPBU - Di Petungkriyono belum ada SPBU Pertamina, sehingga warga di daerah pegunungan itu sulit mengakses BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar.

**Daerah Pegunungan, Belum Terakses SPBU Pertamina

PETUNGKRIYONO – Masyarakat di daerah pegunungan di Kabupaten Pekalongan terutama di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang masih kesulitan mengakses BBM bersubsidi seperti pertalite dan solar. Pasalnya, di daerah atas itu belum ada SPBU Pertamina. Diduga medan yang ekstrem membuat mobil tangki Pertamina tak berani naik ke wilayah atas tersebut. Jumlah penduduk yang sedikit pun diperkirakan menjadi faktor pertimbangan belum adanya SPBU di Petungkriyono.

Daslam, warga Desa Songgodadi, Kecamatan Petungkriyono, kemarin, mengatakan, pasca naiknya harga BBM, dampaknya kian dirasakan masyarakat di Kecamatan Petungkriyono. Pengeluaran keluarga ikut membengkak. Pasalnya, selama ini mereka lebih sering memakai BBM nonsubsidi jenis pertamax. Di kawasan pegunungan itu memang belum ada SPBU Pertamina. Sehingga bensin eceran yang ditemui ialah jenis pertamax.

“Harga eceran pertamax di sini Rp 17 ribu perliter. Kami dari dulu sulit menikmati BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar. Karena ndak ada SPBU Pertamina di sini,” kata dia.

Pembelian pertalite dengan jirigen dilarang. Maka bensin eceran di wilayah atas itu hanya jenis pertamax yang harganya lebih mahal.

“Beban orangtua lebih besar. Anak sekolah di daerah atas sini terutama di Songgodadi, Curugmuncar, dan Simego sekolahnya naik motor karena SMP dan SMA hanya ada satu di Kasimpar. Jaraknya 10 Km. Satu liter habis dalam sehari. Banyak orangtua ngeluh. Bahkan ada yang rasan-rasan lebih baik ndak nyekolahkan anaknya karena ongkos hariannya besar,” ungkap Daslam.

Ia berharap pemerintah bisa mencarikan solusi agar masyarakat di daerah pelosok bisa dengan mudah mengakses BBM bersubsidi. Sehingga program itu tak hanya dinikmati masyarakat perkotaan.

“Jangan karena dipaksa keadaan kami harus beli bensin yang lebih mahal terus. Sudah jalannya rusak, beli BBM juga harganya lebih mahal,” ungkapnya.

Camat Petungkriyono Hadi Suroso mengakui dari dulu masyarakat Petungkriyono belinya bensin eceran jenis pertamax. Karena pertalite tidak boleh diecerkan. “Di sini kan belinya ngecer. Dari dulu orang sini ya belinya pertamax. Yang boleh diecer kan pertamax. Dari dulu pertalite pakai jirigen kan ndak boleh. Kelangkaan tidak ada. Yang ada kenaikan harga. Pertamax di sini seliter Rp 16 ribu, yang tadinya Rp 14 ribu,” ujar Camat Petungkriyono.

Diakuinya, masyarakat Petungkriyono dari dulu tak leluasa menikmati BBM bersubsidi. Karena di wilayah pegunungan itu belum ada pom bensin.

Dikatakan, persoalan itu pun sudah diadukan ke Bupati Pekalongan Fadia Arafiq saat berkunjung di Kecamatan Petungkriyono, baru-baru ini. Ada kades mengadukan persoalan sulitnya mengakses BBM bersubsidi.

“Kemarin kan Ibu Bupati naik, dari kades mengusulkan kalau memang ada itu ada pom bensin mini di Kasimpar ngangsunya juga sulit. Jika memang bisa menjual pertalite, tinggal komunikasi ke Disperindag. Biar ada dispensasi. Lha baru bisa mengeluarkan kalau kelompok. Kalau perorangan orang sini jadi penimbun nanti,” ungkapnya.