Tenang, Telkom Sebut Data Browsing Pelanggan Indihome Bocor Itu Hoaks

oleh -
Netizen di Twitter sedang membicarakan kabar bocornya data browsing milik 26 juta pengguna Indihome. Kabar itu disampaikan salah satu akun di Twitter. Twitter/ngopibareng

Kabar tentang bocornya 26 juta data browsing pelanggan Indihome, viral di Twitter. Telkom pun menyebut jika kabar tersebut adalah hoaks.

Data Browsing Indihome Bocor

Akun Twitter @secgron menyampaikan kabar jika data browsing history milik pelanggan Indihome sebanyak 26 juta, bocor di web bernama Bjorka.

Data itu menurut akun tersebut, memuat dengan detil catatan browsing beserta data pribadi pengaksesnya, mulai dari email, nama terang, gender, hingga nomor KTP.

Dalam unggahan di Twitter, akun tersebut juga mengunggah foto tangkapan layar browsing history beberapa nama pelanggan Indihome, yang diakses di tahun 2018.

Di antara pelanggan tersebut, ada yang mengakses website porno.

“BUMN satu ini jahat banget kelakuannya. Contohnya di baris pertama, Mas-mas ini kebetulan lagi buka bokep lalu browsing historynya dicuri dan diidentifikasi nama, jenis kelamin dan juga NIK miliknya dari data pelanggan. Bayangin kalau ini digunakan untuk mempermalukan seseorang,” cuit akun tersebut dilihat Minggu, 21 Agustus 2022.

Kata Telkom

Kabar tersebut ditanggapi oleh Telkom Indonesia. Senior Vice President (SVP) Corporate Communication and Investor Relation Telkom Indonesia Ahmad Reza, menyebut jika kabar tersebut adalah hoaks.

“Saya pastikan data-data itu hoaks. Telkom itu tidak pernah memberikan email address untuk pelanggan Indihome,” katanya dikutip dari kontan.co.id, Minggu, 21 Agustus 2022.

Ia lantas menyebutkan sejumlah indikator mengapa unggahan itu bisa disebut hoaks. Menurutnya, alamat Telkom ada di @telkom.co.id. Sedangkan dalam foto unggahan di Twitter, data browsing diakses menggunakan telkom.net.

Selain itu, Reza menyebut jika pelanggan Indihome kini ada 8 juta. Sementara cuitan Twitter menyebut ada 26 juta data browsing history.

Selanjutnya, Reza juga mempertanyakan, mengapa data browsing history diambil di tahun 2018. “Keanehan lain, data yang menjadi sample adalah data browsing history tahun 2018. Apakah itu valid?,” katanya.

Ia menegaskan jika pelanggan Indihome sulit diakses, bahkan di internal Telkom sendiri. Sebab, ada enskripsi dan firewall yang berlapis. Sehingga ia memastikan jika data itu bukan berasal dari internal Telkom.

Ia justru menduga data browser history itu dihack sebab mengakses situs terlarang. “Sebaiknya memang kita semua bijak menggunakan akses internet dan waspada terhadap situs-situs terlarang karena bisa saja mengandung malware. Harus waspada tinggi sekali,” lanjutnya. (ngopibareng)