Ajarkan Budaya 5S dari Jepang, Mahasiswa KKN Tim II Undip 2021/2022 Ajak Para Pelaku UMKM Desa Bebel Bekerja Dengan Efektif dan Efisien

by -

Oleh : Ahmad Aslih Sanana, Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Kabupaten Pekalongan (7/8/2022) Budaya 5s merupakan cara sistematis untuk mengatur tempat kerja dengan menghilangkan limbah, meningkatkan aliran, dan mengurangi jumlah proses jika memungkinkan.

Terdapat lima prinsip yaitu Sort (seiri), Set in order (seiton), Shine (seiso), Standardize (seiketsu), dan Sustain (shitsuke). Penerapan 5S penting di tempat kerja karena dapat menghasilkan cara yang lebih efisien untuk menyelesaikan pekerjaan.

Misalnya, proses bisnis dapat mengalir lebih efisien ketika karyawan terus berusaha untuk membersihkan dan mengatur ruang kerja mereka secara berurutan.

Dalam kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) di negara Indonesia, kegiatan produksi dalam UMKM sangat berkaitan dan budaya 5S dapat berkontribusi dalam 17 tujuan dalam SDG’s khususnya pada nomor 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

UMKM dapat mulai memaksimalkan manfaat dari mempraktikkan 5S ketika mereka menyadari perlunya proaktif dalam mengurangi limbah dalam bentuk apa pun dan gerakan yang boros, waktu tunggu, atau langkah dalam prosesnya.

Salah satu program implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk meminimalisir kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja adalah penerapan budaya 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke). Hal ini bertujuan untuk menciptakan energi baru dan positif bagi para pekerja dan menjaga lingkungan kerja yang lebih baik.

Pada Desa Bebel, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Terdapat banyak UMKM dan bahkan merupakan mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Bebel.

Berdasarkan hasil survei di beberapa UMKM khususnya yang bergerak di bidang makanan, banyak ditemukan UMKM yang memiliki tempat proses produksi yang tidak tertata dan beresiko menimbulkan kecelakaan kerja serta bahaya bagi keselamatan para pekerja.

Dari permasalahan tersebut, mahasiswa membuat program penyuluhan mengenai Budaya 5s yang bertujuan mengurangi bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas agar lebih efisien dan efektif bagi pekerja di UMKM.

Pada hari kamis, 28 Juli 2022 Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Tim II Tahun 2021/2022 memberikan penyuluhan mengenai penerapan budaya 5s di tempat kerja untuk 4 UMKM yang bergerak di bidang makanan.

Program tersebut dilaksanakan secara Door to Door dengan mengunjungi sasaran UMKM secara langsung.

Dalam pelaksanaanya, mahasiswa memberikan arahan langsung kepada para pelaku UMKM dan mengajari cara menerapkan budaya 5S di tempat kerja.

Selain itu, mahasiswa juga memberikan poster sebagai pengingat untuk selalu menerapkan budaya 5S di tempat kerja.

Tanggapan positif disampaikan langsung oleh salah satu pelaku UMKM yaitu Iqmal pemilik Warung Gerden di Desa Bebel dengan memberikan komentar, “Budaya 5S ternyata tidak bisa di anggap sepele dalam bekerja, karena selain memiliki dampak positif yang sangat berpengaruh, budaya 5S apabila tidak diterapkan dapat menimbulkan bahaya bahaya yang tidak kita ketahui,” tandasnya.