Naiknya Harga Kebutuhan Pokok Jelang Ramadhan dan Hari Raya Tidak Menurunkan Daya Beli Masyarakat

oleh -
MASIH TINGGI - Harga cabai, telur, dan minyak goreng di pasaran masih tinggi.

oleh:
Novita Putri Andini, Anjani Maslikhatun Nazilah, Arifah Aditya Ariyani, Grace Natalia M.
Universitas Negeri Semarang, Fakultas Ekonomi

TREN harga kebutuhan pokok khususnya sembako pada saat memasuki bulan Ramadhan dan Lebaran selalu mengalami peningkatan. Adanya fenomena ini merupakan hal wajar yang hampir terjadi setiap tahun.

Tidak dapat dipungkiri bahwa permintaan masyarakat akan kebutuhan pokok menjelang bulan Ramadhan dan hari raya selalu melonjak naik dibandingkan dengan penawaran barang yang jumlahnya tidak sebanding dengan permintaannya. Sehingga menyebabkan adanya kenaikan harga serta inflasi, dimana meningkatnya harga secara umum dan terus menerus.

“Logika ekonomi sederhana kan permintaan dan penawaran, masa-masa menjelang puasa dan hari raya pasti kebutuhan pokok lebih tinggi, tapi penawaran atau supply barang kan tidak bertambah banyak,” kata Eddy, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lalu, apa yang melatarbelakangi naiknya harga kebutuhan pokok di pasaran tiap kali menjelang bulan Ramadhan dan hari raya? Apakah hal ini berkaitan dengan ambisi masyarakat terhadap bulan Ramadhan atau hanya sebuah tradisi masyarakat belaka?

Seperti yang kita ketahui bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat muslim, antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadhan sangat tinggi, begitu pula dengan permintaan terhadap kebutuhan pokok di pasar. Ambisi masyarakat menjadi salah satu faktor meningkatnya harga dan permintaan. Hal ini berkaitan dengan pola konsumtif masyarakat untuk memenuhi hasrat atau keinginan memperoleh sesuatu. Dapat dilihat dari perilaku masyarakat yang memenuhi tempat perbelanjaan menjelang hari raya, ramainya restoran di waktu buka puasa dan pasar. Padahal, apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan.

Pada saat bulan Ramadhan, pengeluaran tiap rumah tangga seharusnya menurun, tetapi kenyataannya justru malah meningkat. Misalnya, jika pada hari biasa kita tidak mengkonsumi daging sapi, tetapi karena puasa jadi memasak daging sapi walaupun harganya lebih mahal daripada sebelumnya. Terlebih lagi kebiasaan yang dari dulu sampai saat ini masih ada yaitu mengonsumsi makanan manis (takjil) untuk berbuka puasa, dan jajanan lainnya yang dibeli untuk memenuhi nafsu atau keinginan setelah seharian berpuasa.

Pada saat mendekati hari raya biasanya masyarakat membeli banyak makanan dan pakaian baru sebagai bentuk apresiasi karena sudah berpuasa selama satu bulan penuh. Hal ini dibuktikan oleh adanya peningkatan konsumsi masyarakat dalam belanja online, yang mana berarti naiknya harga barang tidak menurunkan daya beli masyarakat. Menurut data dari Databoks, ada 5 Produk yang Paling Banyak Dibeli
Responden secara Online pada Ramadhan 2022. Produk yang paling banyak dibeli konsumen saat belanja online adalah pakaian, yang diikuti oleh produk perawatan tubuh, produk perawatan kulit, dan sepatu. Berdasarkan hasil penelitian atau sebanyak 63% responden menghabiskan kurang dari Rp.500.000 untuk belanja online khususnya pada pekan ketiga bulan Ramadhan. Survei ini dilakukan pada 19-21 April 2022 lalu dengan melibatkan 1.042 responden beragama Islam. Margin of Error dalam survei ini berada dibawah 3%.

Data lain dari Databoks menunjukkan bahwa Rata-rata Anggaran Belanja Masyarakat Diproyeksikan Naik 10% pada Ramadhan 2022. Menurut hasil survei dari SurveySensum, masyarakat menyiapkan rata-rata Rp.6,9 juta untuk belanja Ramadhan 2022, angka ini naik sekitar 10% dibandingkan Ramadhan 2020 saat pertama terjadi pandemi Covid-19. Dalam survei ini 57% responden mengaku akan memiliki pengeluaran lebih besar pada Ramadhan 2022, hanya 4% yang berencana mengurangi pengeluaran, sedangkan 39% sedang berencana mengubah pengeluarannya. Survei dilakukan oleh SurveySensum pada 25 Februari hingga 5 Maret 2022 dengan melibatkan 1.500 responden yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Bandung. Terkait dengan situasi dan kondisi tersebut, dimanfaatkan banyak pihak untuk menjadikan momen di bulan Ramadhan sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan.

Tradisi masyarakat untuk melakukan konsumsi lebih banyak di bulan Ramadhan ini sudah terekam oleh para produsen dan penjual di pasaran, sehingga tidak sedikit dari mereka yang dengan sengaja melakukan penimbunan sedikit demi sedikit menjelang bulan Ramadhan dan hari raya untuk menaikkan harga konsumsi nantinya. Mereka tahu bahwa masyarakat itu butuh, sehingga dalam keadaan yang mahal pun tidak berpengaruh dan akan tetap di beli oleh masyarakat.(*)