Ada PMK, Permintaan Daging Sapi Tetap Stabil

by
TAK TERPENGARUH - Wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) pada hewan ternak sapi, ternyata tidak berpengaruh terhadap penjualan daging sapi.

KENDAL – Wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) pada ternak sapi, ternyata tidak berpengaruh terhadap penjualan daging sapi di pasar tradisional di Kabupaten Kendal. Hanya saja, untuk bagian kepala dan kaki sapi, untuk sementara tidak tersedia.

Sohibah, penjual daging sapi di Pasar Kendal mengatakan, sejak adanya wabah PMK, harga daging sapi masih stabil, rata-rata Rp 135 ribu per kilogram. Demikian pula untuk permintaan dari pembeli, juga relatif stabil. Dalam kondisi normal, ia per hari rata-rata bisa menjual 30 sampai 50 kilogram. Namun, ketika musim hajatan, bisa menjual lebih dari 50 kilogram per harinya. “Wabah PMK, belum berdampak, masih stabil, harga rata-rata Rp 135 ribu per kilogram,” katanya, Kamis (2/6/2022).

Berbeda dengan daging sapi, untuk harga daging ayam sayur sejak sepekan lalu mengalami kenaikan menjadi Rp 37 ribu per kilogram. Harga sebelumnya Rp 33 ribu sampai Rp 34 ribu per kilogram.

Penjual daging ayam di Pasar Kendal, Kuwati mengatakan, untuk harga ayam kampung, justru mengalami penurunan, sejak pasca lebaran lalu. “Ketika menjelang lebaran harga ayam kampung mencapai Rp 90 ribu hingga Rp 110 ribu per kilogram,” katanya.

Namun pasca lebaran hingga sekarang ini harga daging ayam kampung menjadi Rp 75 ribu per kilogram. Sementara harga ayam merah, pasca lebaran naik menjadi Rp 65 ribu per ekor dari kandang. Padahal ketika menjelang lebaran harga ayam merah rata-rata Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per ekor.

“Harga ayam kampung turun, setelah lebaran bisa capai Rp 90 ribu dan sekarang Rp 75 ribu per kilogram. Kalau ayam merah malah mahal, dari kandang aja sudah Rp 65 ribu, sebelumnya Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per ekor,” ungkapnya.

Para pedagang dagig ayam pun tak mengetahui penyebab naiknya harga daging ayam potong, karena stoknya masih lancar. Hanya saja, untuk harga ayam merah yang mengalami kenaikan, kemungkinan karena stoknya tidak banyak. Sedangkan turunnya harga ayam kampung setelah lebaran, karena permintaannya berkurang, dibanding menjelang Lebaran yang permintaannya cukup tinggi. “Kalau ayam merah setelah Lebaran tidak ada, jadi mahal,” ucapnya. (lid)