Ribuan Warga Turun ke Jalan Saksikan Kirap Budaya

by
Bupati beserta keluarga yang menumpang kereta disambut antusias oleh warga.

BATANG – Ribuan warga turun ke jalan untuk menyaksikan kirap budaya dan juga pusaka yang digelar dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Batang yang ke-56, Jumat (20/05/2022). Kegiatan ini sebelumnya sempat tidak digelar selama dua tahun akibat pandemi Covid-19.

“Kirab ini merupakan rangkaian kegiatan HUT Kabupaten Batang yang jatuh pada bulan April. Namun karena bertepatan dengan bulan puasa, maka pelaksananya diundur pada bulan Mei ini,” ungkap Ketua Panitia Kirab budaya dan pusaka, Achmad Taufik, Jumat (20/05/2022).

Pada pelaksaan kirap itu sendiri, tombak pusaka Abirawa yang merupakan senjata peninggalan pendiri Kabupaten Batang bersama sejumlah senjata pusaka lainnya juga ikut dikirap. Rute kirap sendiri mengambil star dari pendopo kantor bupati menyusuri jalan Ahmad Yani-Gajah Mada-Ahmad Dahlan-Brigjend Katamso-RA Kartini dan kembali ke pendopo kantor bupati.

Bupati Batang Wihaji bersama keluarga dan Wakil Bupati Batang, Suyono naik kereta kencana diiringi jajaran Forkompinda. Dibelakangnya mengikuti para pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemkab Batang.

Disepanjang perjalanan, Bupati dan Wakil Bupati menyebar udik-udik berupa uang recehan. Uang tersebut menjadi rebutan warga yang telah berjejer dipinggir jalan.

“Ikut ngalap berkah dari uang yang dibagikan oleh pak bupati dan pak wakil bupati pada kirab ini,” kata salah seorang warga, Riyan yang ikut memperebutkan uang tersebut bersama warga lainnya.

Menurut Achmad Taufik, rute kirap sendiri sebelumnya akan diperpendek. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dikembalikan seperti sebelumnya. Namun untuk jumlah peserta, masih tetap dibatasi.

“Peserta kita tetap batasi, jadi tiap kecamatan hanya sekitar 15 orang saja. Sebelumnya, tidak ada pembatasan,” jelas pria yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang itu.

Selain kirap pusaka, sebanyak 15 gunungan berupa hasil bumi juga ikut dikirap. Hasil bumi tersebut berasal dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Batang. Berbagai hasil pertanian, mulai dari sayuran hingga buah-buahan disusun sedemikian rupa hingga membentuk gunungan.

Sesampainya di pendopo, hasil bumi tersebut didoakan sebagai ungkapan rasa syukur ada Allah SWT. Selanjutnya, aneka buah dan sayuran tersebut menjadi rebutan ribuan warga. (don)