Tersangka Mafia Pupuk Bertambah

by

KAJEN – Kejaksaan Negeri Kabupaten Pekalongan menetapkan dua tersangka baru dalam kasus mafia pupuk. Kedua tersangka ialah SH (26), warga Desa Karanggondang, Kecamatan Karanganyar, dan UM (58), warga Desa Tangkil Tengah, Kecamatan Kedubgwuni.

Kedua tersangka merupakan admin di CV Tani Jaya. Kedua tersangka diduga membuat laporan bulanan KPL secara fiktif.

Hingga kemarin, Kejari Kabupaten Pekalongan sudah menetapkan tiga tersangka dalam kasus mafia penyaluran pupuk urea bersubsidi. Yakni Direktur CV Tani Jaya, MYF (58), warga Desa/Kecamatan Kesesi, SH, dan UM. Namun tidak menutup kemungkinan masih akan ada tersangka lainnya.

“Dari hasil penyidikan sekarang ini kemungkinan besar kedepan akan ada tersangka lain. Kita tunggu hasil penyidikan selanjutnya,” terangnya.

Kajari Kabupaten Pekalongan, Abun Hasbulloh Syambas, didampingi Kasi Intel Adi Chandra, dan Kasi Pidsus R Evan Adhi Wicaksana dalam keterangan pers, Kamis (19/5/2022) petang.

Dikatakan, Kejari Kabupaten Pekalongan kemarin telah menetapkan dua tersangka dalam perkara tindak lanjut penanganan pupuk. Yakni UM dan SH. Keduanya adalah admin CV Tani Jaya.

Kedua tersangka dijerat Pasal 2 Ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP. Pasal subsidernya Pasal 3 UU Tipikor. Ancamannya, Pasal 2 minimal 4 tahun, Pasal 3 minimal 1 tahun.

“Kedua tersangka ini adalah yang membuat pada sekitar bulan November 2021 membuat laporan bulanan fiktif hingga menimbulkan kerugian negara,” terang dia.

Sebelumnya diberitakan, penyaluran pupuk urea bersubsidi di Kecamatan Kesesi, Sragi, dan Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan selama periode 2019 – 2021, diduga diselewengkan.

Penyidik Kejaksaan Negeri Kabupaten Pekalongan telah menetapkan seorang tersangka korupsi penyaluran pupuk urea bersubsidi itu. Yakni Direktur CV Tani Jaya, MYF (58), warga Desa/Kecamatan Kesesi. Tersangka merupakan distributor pupuk urea bersubsidi dengan wilayah kerja di tiga kecamatan tersebut. Tersangka telah ditahan di Rutan Pekalongan. Namun tidak menutup kemungkinan masih ada tersangka lainnya, karena penyidik masih terus melakukan pengembangan kasus dugaan korupsi tersebut.

Modus operandi tersangka di antaranya dengan menjual pupuk urea bersubsidi di atas HET, membuat dokumen fiktif, penyaluran fiktif, hingga dugaan penyaluran di luar Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan di luar wilayah kerjanya. (had)