, ,

Kampus Pemimpin Merdeka Beri Beasiswa untuk Sekolah Belajar Kurikulum Baru

by

JAKARTA – Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) memberikan beasiswa belajar dan pendampingan kepada lima sekolah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk mempersiapkan implementasi Kurikulum Merdeka. Kedepannya, ungkap Rizqy Rahmat Hani selalu ketua KPM, akan ada beasiswa lagi untuk sekolah lain.

“Ini masih pilot project. Sehingga kami memilih 5 sekolah terlebih dahulu yang mengikuti program. Setelah selesai, lima sekolah ini akan kami ajak focus group discussion agar kami dapat mendengarkan masukan dan memperbaiki programnya. Nantinya akan dibuka untuk untuk lebih banyak lagi sekolah,” papar Rizqy saat ditemui pasca pembukaan program beasiswa “Siap Kurikulum Merdeka” pada Kamis (12/05/2022).

Sekolah yang mendapat beasiswa yaitu PAUD Pelita Hati Mojosari (Mojokerto), SD Negeri 222 Inpres Pali (Tana Toraja), SMP Negeri 3 Bissappu (Bantaeng), MAN 2 Kota Pekanbaru, dan SMK Negeri 2 Sewon (Yogyakarta). Adapun kelima sekolah ini akan mengirimkan kepala sekolah dan tiga guru yang akan mengikuti program belajar dan pendampingan ini.

Aktivitas belajar yang akan dilaksanakan berupa simulasi menganalisis karakteristik sekolah, simulasi membuat kerangka desain kurikulum operasional sekolah, simulasi menyusun tujuan pembelajaran, dan simulasi memahami pengembangan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Peserta akan mendapatkan sesi mentoring dan coaching melalui Zoom sebanyak empat kali dan mendapat lima modul yang dapat dipelajari secara mandiri.

Rizqy berharap dua puluh peserta yang mendapatkan beasiswa kali ini dapat menyebarkan hasil belajarnya ke teman pendidik lainnya sehingga dapat siap untuk menerapkan Kurikulum Merdeka.

“Saat Kurikulum Merdeka diluncurkan oleh Mas Menteri, kami di KPM mendengar dari teman-teman pendidik banyak pertanyaan tentang kurikulum ini. Apa yang harus dilakukan? Ingin bergerak dan berdampak tapi tidak tahu harus bagaimana. Melalui program ini, kami berusaha menjawab keresahan itu,” jelas Rizqy.

Dalam acara pembukaan program ini, turut hadir Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar, yang nantinya akan ikut mendampingi peserta dalam program belajar. Ia menegaskan perlunya pendidik melakukan perubahan paradigma.

“Perubahan kurikulum ini tidak semata-mata perubahan secara teknis tapi paradigma. Selama ini kita sudah sering mendengar student center, tapi implementasinya belum kelihatan. Baru di Kurikulum Merdeka ini prinsip tersebut mendapat tempat,” kata Bukik.

Perubahan paradigma, jelas Bukik, seharusnya bisa terlihat dari bergesernya cara berpikir dari yang mengacu pada keseragaman dan kepatuhan menjadi keberagaman, diferensiasi, dan cara berpikir kreatif. Tidak ada lagi pendidik yang membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hanya copy-paste dari buatan pendidik lainnya.

Bukik juga mengingatkan, melakukan perubahan paradigma adalah hal yang sulit. Dalam implementasinya akan banyak sandungan sehingga membuat pendidik ingin kembali ke cara yang lama.

“Namanya kita punya prinsip pasti ada resiko yang menggoda. Sudah sepakat kita berpihak pada anak. Kalau misal dalam satu waktu ada tugas administrasi dan tugas terkait anak, mana yang kita korbankan? Ya harus administrasi. Tapi nanti kena marah atasan? Itu resiko,” pungkas Bukik. (sep)