Udi Suhono Tawarkan Gagasan Rahasia agar Kota Pekalongan Cepat Maju

by -
Ketua Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Jawa Tengah dr. Udi Suhono, SPB

RAUT gelisah terpancar pada wajah aktivis ‘Beli Indonesia’ dan Ketua Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Jawa Tengah dr. Udi Suhono SpB. Sehari sebelumnya Udi –panggilan akrabnya– berdiskusi dengan salah seorang temannya yang aktivis maritim dan pembuat kapal penangkap ikan.

Pembangunan tanggul raksasa di sebelah utara Kota Pekalongan satu sisi dapat menahan laju banjir rob. Namun sisi lain kapal-kapal yang parkir di muara sungai sulit untuk ke luar karena dangkalnya muara.

“Pekalongan ini pusat perikanan,” ujar dr Udi memulai pembicaraannya.

“Mestinya ikan bisa melimpah,” katanya lagi.

“Tapi kenyataannya, pelabuhan Pekalongan tidak lagi menajadi produsen ikan terbesar,” tutur Udi prihatin.

Udi bermimpi warga Pekalongan suatu saat merasakan gemah ripah lohjinawe. Kaya sandang, kaya pangan, makmur dan tidak ada orang miskin.

“Saya punya 3 langkah penting untuk direspons oleh pihak pemangku birokrasi,” ujar Udi berapi-api.

Dengan senyum khasnya dia menawarkan gagasan dan konsep untuk memajukan warga Kota Pekalongan.

“Pertama, kualitas sumber daya manusianya ditingkatkan, maka tidak ada lagi istilah ada warga miskin,” tutur Udi sambil menyeka keringat di dahinya.

“Bagaimana menyiapkan kualitas sumber daya manusia?” Udi bertanya, lantas dia menjawab sendiri.

“Berikan sarana dan prasarana untuk belajar. Dorong warga untuk gemar menambah skill dan pengetahuan. Tugas pemerintah menyediakan sarana ini,” sahutnya bersemangat.

“Kalau kualitas SDM nya digarap serius tidak ada pemandangan sungai ‘butek’, tidak ada istilah membuang limbah sembarangan,” tuturnya pelan tapi penuh energi.

Kadang Udi Suhono miris dengan ungkapan yang mengatakan, “Semakin keruh air sungai di Kota Pekalongan, semakin bergeliat ekonominya.”

“Ini kan jargon yang keliru. Mestinya ekonominya maju, tapi sungainya juga bersih,” tuturnya terlihat agak jengkel melihat kondisi air sungai Kota Pekalongan yang memiliki warna bak pelangi.

Dia mengambil contoh, limbah rumah sakit ketika keluar akan dialirkan ke kolam yang ada ikannya. Kalau ikannya masih hidup, artinya limbahnya sudah bersih.

Para pengusaha bisa membuat instalasi pengolahan limbah (Ipal) di setiap RW atau bahkan setiap RT. Sehingga air sungai tetap jernih.

“Gagasan kedua, tumbuhkan mental entrepreneur, bukan penunggu BLT,” katanya lagi.

Bantuan langsung tunai atau BLT dalam pandangan Udi persis seperti gula-gula. Hanya bisa diemut-emut tapi tidak mengenyangkan.

Dikasih sekali berharap dikasih kembali. Sementara mental entrepreneur adalah mental pejuang. Minimal memperjuangkan untuk taraf hidup dirinya sendiri.

Dan gagasan ketiga, gali potensi lokal seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan tidak mengandalkan impor. Sangat ironis negara Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, tapi makanan pokoknya malah impor.

“Ini mirip ayam mati di lumbung padi. Negara pertanian tapi berasnya impor,” tutur Udi sambil geleng-geleng kepala karena merasa heran. (sep)