Buku Pedoman Belajar di Sekolah Wajib Berlogo Tanda Layak

by -
SOSIALISASI - Kemenag RI menggelar Sosialisasi Tanda Layak Buku Pendidikan Agama pada Sekolah dan Madrasah yang digelar di Kantor Kemenag Kota Pekalongan.

KOTA – Buku yang masuk dan menjadi buku pedoman belajar di sekolah maupun madrasah, wajib sudah lolos seleksi dari Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI. Hal itu ditegaskan Koordinator Lektur Kemenag RI, Bahari dalam kegiatan Sosialisasi Tanda Layak Buku Pendidikan Agama pada Sekolah dan Madrasah yang digelar di Kantor Kemenag Kota Pekalongan belum lama ini.

Bahari mengatakan, tujuan kegiatan tersebut adalah untuk mensosialisasikan surat edaran sekretaris jenderal terkait buku layak terbit di sekolah dan di madrasah. Sehingga diharapkan seluruh buku yang beredar di sekolah maupun madrasah sudah lolos seleksi oleh Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI. “Intinya kegiatan ini untuk mensosialisasikan surat edaran sekretaris jenderal terkait buku layak terbit di sekolah dan di madrasah. Kita bersinergi antara dirjen pendidikan islam, kanwil dan kankemenag,” ujar Bahari.

Bahari menilai sosialisasi ini sangat penting, diharapkan baik Kankemenag, Kanwil, lembaga pendidikan maupun madrasah dapat lebih teliti dalam memilah buku yang akan digunakan atau diedarkan ke lembaga masing-masing, “Sosialisasi ini jadi penting artinya kalau di kankemenag kanwil sekolah/madrasah semua buku yang sudah diberikan tanda layak. Tidak ada lagi buku yang tidak berlogo layak yang dikhawatirkan berpotensi mengandung hal-hal yang tidak diinginkan,”tambahnya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Kota Pekalongan, M Nadhif mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan tidak ditemukan lagi buku khususnya buku pendidikan agama yang isinya mengandung SARA, radikalisme, atau yang lainnya.

“Sosialisasi tanda layak ini penting karena selama ini sering terjadi kasus buku yang beredar di tengah masyarakat khususnya buku pendidikan agama masih ada kejadian muncul teks atau narasi-narasi yang justru kontraproduktif. Misalnya narasi yang berbau SARA, radikalisme, atau berbau hal-hal yang selama ini kita hindari,” kata Nadhif.

Nadhif mengimbau agar para guru maupun madrasah dapat menyeleksi buku pedoman belajar mengajar apakah sudah disahkan oleh Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI. Lebih lanjut, Nadhif berpesan kepada tenaga pendidik maupun masyarakat jika menemukan buku yang ternyata isinya mengandung unsur SARA atau hal yang tidak layak konsumsi anak dapat melaporkan langsung baik ke kantor Kemenag maupun Dinas Pendidikan setempat.(nul)