Dapat Pelajaran Berharga di Tahanan, Yahya Waloni Tobat dan Sadar

by -
Yahya Waloni. pojoksatu

Setelah mendekam di dalam penjara lantaran ceramahnya yang menyinggung umat Kristen, Yahya Waloni mengaku sudah tobat dan sadar.

Pengakuan Yahya Waloni itu diungkap dalam video podcast bersama Deddy Corbuzier.

Selama menjalani hukuman, Yahya Waloni mengaku lebih banyak merenung atas ceramah-ceramahnya selama ini.

Setelah itu, barulah ia sadar bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini adalah salah.

“Saya sendiri (yang sadar). Setelah saya merenung di dalam penjara. Gak ada yang paksa-paksa (merubah pola pikir),” ungkap Yahya Waloni.

“Jadi, mendapatkan inspirasi baru di dalam penjara?” tanya Deddy.

“Betul, betul,” jawab Yahya Waloni.

Deddy lantas menanyakan pada momen apa yang akhirnya membuat Yahya Waloni tersadar.

Yahya Waloni menjelaskan, bahwa segala sesuatu ritual yang dilakukan agama lain, adalah hal yang suci.

“Hal yang sangat sakral. Tidak boleh jadikan itu sebagai gurauan, candaan, humor,” tuturnya.

Deddy Corbuzier lantas memuji perubahan drastis Yahya Waloni yang 180 derajat dibanding yang dulu.

“Iya, saya harus berubah. (Itu didapat) di dalam penjara,” aku Yahya Waloni.

Yahya Waloni lantas menceritakan pengalaman di dalam penjara yang sangat membekas dan membuatnya sadar akan kesalahan-kesalahannya.

“Bagaimana saya tidak sadar. Di dalam penjara yang datang ke saya bawa makanan, orang Kristen,” bebernya.

“Iya, saya harus berubah. (Itu didapat) di dalam penjara,” aku Yahya Waloni.

Yahya Waloni lantas menceritakan pengalaman di dalam penjara yang sangat membekas dan membuatnya sadar akan kesalahan-kesalahannya.

“Bagaimana saya tidak sadar. Di dalam penjara yang datang ke saya bawa makanan, orang Kristen,” bebernya.

Dia juga mengungkap bahwa orang-orang Kristen itu juga yang membantunya selama di penjara.

“Cuci baju saya. Orang Flores, orang Timor, dan tidak ribut,” sambungnya.

Ia mengaku, hubungannya dengan orang-orang Kristen di dalam penjara pun terjalin akrab.

“Ngobrol kita tentang persidangan. (Mereka) suruh bikin pledoi sama saya, saya bikin. Iya, saya yang (bantu) buat pledoi mereka,” ujarnya.
Dari dalam penjara pula, Yahya Waloni mengaku belajar arti keberagaman.

“Akhirnya keberagaman terjadi di sana, minimatur. Sangat baik untuk merubah tata kehidupan, perilaku kita,” ungkapnya. (ruh/pojoksatu)