Awal Tahun Kabupaten Pekalongan Dihajar Bencana

by -
RAPAT DI TAMAN - Bupati Fadia Arafiq pimpin rapat dinas di Taman Boulevard Rumdin Bupati, kemarin pagi.

**Bupati Gelar Rapat Dinas di Alam Terbuka

KAJEN – Kota Santri dihajar bencana alam secara beruntun di awal tahun 2022 ini. Mulai dari longsor, banjir, hingga bencana angin kencang. Mensikapi bencana alam yang terjadi, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq mengumpulkan seluruh jajarannya, kemarin. Rapat dinas pun dilaksanakan dengan suasana berbeda. Rapat digelar di alam terbuka di Taman Boulevard Rumdin Bupati Pekalongan. Wabup Riswadi tampak hadir duduk satu meja dengan Bupati. Diapit Sekda M Yulian Akbar dan Asisten Pemerintahan Totok Budi M. Tampak pula sejumlah pimpinan OPD lainnya dan camat.

Di rakor itu, Bupati Fadia menyampaikan, kejadian bencana alam di sebagian wilayah Kabupaten Pekalongan hampir terjadi tiap tahunnya. Untuk itu harus dicarikan cara penyelesaiannya. Apabila daerah yang mengalami bencana alam termasuk kategori daerah dengan status darurat, maka daerah ini bisa mengajukan untuk mendapatkan bantuan khusus dari pemerintah pusat.

“Di awal tahun, ada masalah yang kita hadapi adalah banjir dan tanah longsor. Dengan situasi seperti ini, menurut saya daerah bisa dijadikan status darurat karena hampir setiap tahunnya ada kejadian longsor, jembatan putus. Kalau memang sudah ada status darurat, kita langsung ke pusat mengajukan agar mendapat bantuan,” tutur Fadia.

Pada rapat dinas ini, Fadia memberikan arahan agar Pemkab Pekalongan memiliki alat berat ekscavator kecil. Sebagai antisipasi dan solusi jika ada musibah yang menimpa.

“Kita baru punya dua alat berat ekscavator. Sedang kita punya empat daerah berpotensi rawan bencana alam. Sementara alat disiagakan di daerah yang paling rawan, sehingga perlu penambahan alat berat tersebut,“ tegasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Riswadi, menerangkan, Kabupaten Pekalongan memang ada daerah yang selalu mengalami bencana alam tiap tahunnya. Yaitu di Kecamatan Lebakbarang, Kandangserang dan Petungkriyono.

Menurut Riswadi, longsor terjadi karena intensitas hujan tinggi, lalu daya tampung saluran tidak mampu, akhirnya menimbulkan genangan dan longsor.

“Kami diskusi dengan Bupati, bagaimana tahun depan di perubahan, diberi anggaran khusus untuk tiga kecamatan yang disiapkan alat berat yang sesuai dengan infrastruktur jalan yang sama. Kerja alat berat ini 12 bulan dalam 1 tahun. Mereka walau tidak hujan, membuat ilen-ilen terus. Saya rasa itu upaya pertama,” terang Riswadi.