Kegiatan Ekspor Enam Perusahaan Terhenti

by
Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, Budiyanto

*Semester II Tahun 2021
*Akibat Pembatasan di Negara Tujuan Ekspor

KOTA – Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan mencatat, capaian nilai ekspor barang asal Kota Pekalongan pada tahun 2021 mencapai USD30,263 juta atau senilai Rp435,7 Miliar. Nilai tersebut melampaui target yang ditetapkan sebesar USD26,18 juta atau Rp376,9 Miliar.

Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, Budiyanto mengungkapkan bahwa ada kenaikan sekitar USD4 juta atau sekitar Rp57,6 Miliar untuk realisasi nilai ekspor Kota Pekalongan Tahun 2021 dari target yang telah ditetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026. Sementara untuk tahun 2022 ini, Budiyanto menyebutkan target ekspor ditetapkan sebesar USD26,44 juta atau Rp380,7 Miliar.

“Nilai ekspor Kota Pekalongan Tahun 2021 capaiannya sebesar USD30,263 juta atau melampaui target dari USD26,18 juta. Capaian nilai ekspor ini didapat dari 21 eksportir yang ada di Kota Pekalongan. Bahkan beberapa diantaranya memproduksi dan melakukan ekspor dua kali lipat khususnya di semester dua tahun 2021,” tutur Budiyanto, kemarin.

Dia mengakui, meski capaiannya melampaui target adapula sejumlah UMKM yang terhenti melakukan ekspor di semester kedua akibat adanya kebijakan pembatasan di negara tujuan di tengah masa pandemi Covid-19. Yakni CV Ridaka dengan komoditi produknya kain tenum bahan alam ke negara-negara Asia, Eropa, dan Australia.

Kemudian PT Raveena Garmenindo dengan komiditi sarung batik dengan tujuan ekspor ke negara Arab, PT Ade Mas Perdana dengan produknya Shisa brikette yang biasanya diekspor ke Jepang, PT Hanjaya dengan produk sarang burung walet dan diekspor ke Hongkong, Batik Murni dengan produk kain batik tulis diekspor ke Myanmar dan Jerman, serta PT Maya Food dengan komoditi produknya sarden yang rutin diekspor ke Singapura.

“Untuk saat ini ada 21 eksportir Kota Pekalongan baik yang bergerak di sektor frozen food, sarung batik, kain tenun, sarang burung walet, gondorukem, piyama, hingga rumput laut. Kami dari Dindagkop-UKM terus berupaya mendampingi pelaku UMKM yang berpotensial untuk melakukan ekspor agar usaha mereka lebih berkembang dan bisa melakukan kegiatan ekspor secara mandiri,” tandasnya.(nul)