50 Sekolah Penggerak Terapkan Kurikulum Prototipe

by
SAMBUTAN - Kepala Disdikbud Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi, memberikan sambutan di acara in house training penerapan kurikulum prototipe.

KENDAL – Sebanyak 50 sekolah penggerak dari jenjang TK, SD, dan SMP di Kabupaten Kendal menggunakan kurikulum prototipe. Salah satunya adalah SMP Negeri 4 Cepiring.

Penggunaan kulikulum itu dilakukan karena mulai tahun 2022 Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi memberikan tiga opsi kurikulum yang dapat diterapkan satuan pendidikan dalam pembelajaran, yakni kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum prototipe.

Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013 yang mulai diterapkan pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19. Sedangkan kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek.

Kepala SMP Negeri 4 Cepiring, Sutrisno mengatakan, saat ini kurikulum prototipe sudah diterapkan sekolah yang dipimpinnya, namun khusus siswa kelas VII. Sedangkan bagi siswa kelas VIII dan IX masih menggunakan Kurikulum 2013. Untuk itu pihak sekolah melaksanakan in house training bagi semua guru, dengan harapan untuk guru kelas VIII dan IX sudah ada persiapan. “Sehingga pada tahun ajaran baru 2022/2023 nanti semua guru sudah siap. Sebab SMPN 4 Cepiring merupakan sekolah penggerak,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi mengatakan, untuk kurikulum prototipe ini diperuntukkan hanya bagi sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah penggerak. Untuk Kabupaten Kendal ada 50 sekolah penggerak mulai dari TK, SD, dan SMP semua siswa kela I sudah menggunakan kurikulum prototipe.

“Salah satu karakteristik kurikulum prototipe adalah menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk mendukung pengembangan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila,” katanya.

Dalam kurikulum prototipe, sekolah diberikan keleluasaan dan kemerdekaan untuk memberikan proyek-proyek pembelajaran yang relevan dan dekat dengan lingkungan sekolah. Pembelajaran berbasis proyek dianggap penting, bagaimana bertoleransi, bekerja sama, saling menjaga dan lainnya. “Juga mengintegrasikan kompetensi esensial dari berbagai disiplin ilmu,” ucap Wahyu. (lid)