Potensi Longsor Susulan Masih Mengancam

oleh -
Ulul Azmi, Kalak BPBD Batang

Diketahui, bencana tanah longsor di Pranten-Rejosari pada Sabtu (31/12/2021) lalu itu, mengakibatkan pergerakan tanah dengan luasan mencapai 8,5 Ha dengan panjang 1.000 m.

Adapun kedalaman bidang gelincir diperkirakan 20 meter, sehingga menyebabkan longsoran dengan volume material kurang lebih 1,7 juta kubik. “Jarak terdekat dengan pemukiman warga 900 meter,” jelasnya.

Ulul mengatakan, berdasarkan hasil asesment Dinas ESDM Provisni Jawa Tengah, bahwa gerakan tanah yang terjadi di Dusun Rejosari, Desa Pranten, Keçamatan Bawang, bersifat aliran (flows) dengan arah menuju ke Barat Laut (N 340° E) yang telah berlangsung lama dan mengalami percepatan saat musim hujan, dikarenakan terjadi infiltrasi air hujan ke dalam lereng.

Sesuai hasil pengukuran lapangan diperoleh jarak lebar pada mahkota longsor + 160 m dan pada kaki longsor + 50 m, menyebabkan kerusakan berupa hilangnya jembatan yang menghubungkan Desa Pranten dengan Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara serta menyisakan tumpukan material hasil longsoran dalam jumlah besar.

Ditambahkan Ulul, bahwa peristiwa tanah longsor itu sudah terjadi berulangkali. Peristiwa tanah longsor pertama kali terjadi pada tahun 1993 silam.

“Peristiwa itu merupakan kejadian yang berulang. Jadi tahun 1993, lokasi tersebut juga pernah mengalami peristiwa longsor, dan sempat menyebabkan banjir bandang sampai ke kali putih di Deles. Dulu, lokasi tanah longsor itu ada sebuah perkampungan, namanya Siglagah, dan kini penduduknya sudah pindah ke Rejosari,” tandasnya. (fel)