Keluarga dan Lingkungan Harus Hadir

by
Kasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular Dinkes, Sudaryanto.

Ketidakhadiran pihak keluarga ini bisa melatarbelakangi seseorang berbuat nekat. “Dia mau ngeluh sama siapa. Bercerita sama siapa. Sementara keluarganya sendiri tidak ada yang mau menerimanya. Akhirnya milih akhiri hidupnya. Ini salah satu pemicunya,” kata dia.

Banyak hal yang harus dirubah dalam penanganan ODGJ. Apalagi ada potensi penambahan ODGJ di Kabupaten Pekalongan. Di sisi lain, kepedulian masyarakat belum bisa dioptimalkan. “Untuk tangani ODGJ semuanya harus bergotong-royong. Kita tidak bisa hakimi seseorang karena alami gangguan jiwa. Justru harus kita tolong mereka. Kita bantu. Mereka harus merasa diayomi dan disayangi,” ungkap dia.

Sebelumnya diberitakan, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Pekalongan cukup tinggi. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan hingga Juni 2021, angka prevalensi orang dengan gangguan jiwa di Kota Santri diprediksi ada 2.359 orang.

Dinkes Kabupaten Pekalongan terus berupaya untuk mengatasi persoalan disabilitas jiwa ini. Pasalnya, ODGJ ini bisa sembuh dan produktif asalkan melakukan pengobatan yang tepat dan benar, serta mendapatkan dukungan dari keluarga, lingkungan sekitar, dan pemerintah.

Dokter spesialis kejiwaan, dr Heny Rosita SpKj M.Kes, didampingi Kasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular Dinkes, Sudaryanto, mengatakan, gangguan jiwa bisa disebabkan oleh biopsikososial. Yakni bisa disebabkan oleh faktor biologis atau keturunan, faktor psikologis itu dari kepribadiannya, dan faktor sosial dari pengaruh lingkungannya, termasuk pola asuhnya.