Pola Tanam Semusim Ikut Picu Longsor

by
BERI KETERANGAN - Administratur KPH Pekalongan Timur, Untoro Tri Kurniawan, saat memberikan keterangan soal pencegahan longsor di wilayah Bawang.

Pertanian kentang, kata Untoro, sangat memicu timbulnya aliran air cukup deras, yang bisa menjadikan guguran guguran tanah. “Ya, ada lahan milik perhutani yang digunakan masyarakat untuk tanaman kentang, kurang lebih luasannya mencapai 3 hektar. Kami mengetahui itu, namun kita selalu berupaya menyadarkan masyarakat, karena proses untuk menyadarkan masyarakat butuh waktu, dan bukan hanya tugas perhutani, melainkan juga instansi terkait,” terangnya.

Ia mengatakan, tidak ada sistem sewa lahan atau bagi hasil, atas adanya penggunaan lahan milik perhutani oleh masyarakat untuk tanaman kentang itu.

“Tidak ada sistem sewa pada perhutani. Kami sebenarnya sudah melarang masyarakat, dan meminta merubah pola tanam atau kebiasan pertanian kentang. Kami harap masyarakat mengembalikan lagi lahan itu kesemula (hutan,red), bukan tanaman pertanian,” katanya.

Ia menegaskan, bahwa Kecamatan Bawang termasuk wilayah yang harus dijaga konservasinya. Sebab, Bawang merupakan wilayah yang memiliki lahan yang rawan longsor, tanahnya relatif labil.

“Terkait peristiwa tanah longsor di Pranten, lahan milik Perhutani yamg terdampak hanya 1 hektar, dan letaknya paling atas. Tidak ada tanaman kentang pada lahan milik perhutani yang terdampak longsor,” tukasnya. (fel)