Masih Pandemi, LPG Non Subsidi Naik

by
KELUHKAN - Pengusaha rumah makan dan cafe di Kendal mengeluhkan tingginya harga isi ulang non subsidi.

*Pengusaha Kafe-Rumah Makan Mengeluh

KENDAL – Kenaikan harga LPG non subsidi sejak akhir tahun kemarin mulai dikeluhkan kalangan pengusaha rumah makan dan kafe. Kenaikan harga tersebut dinilai cukup memberatkan, karena otomatis menaikkan biaya produksi. Terlebih, mereka belum benar-benar pulih dari dampak pandemi Covid-19.

Untuk diketahui, saat ini harga gas isi ulang ukuran 5,5 kilogram naik dari Rp 70 ribu menjadi Rp 81 ribu atau naik Rp 11 ribu. Sedangkan gas ukuran 12 kilogram yang semula dari Rp 150 ribu, naik Rp 26 ribu menjadi Rp 166 ribu. Bagi pengecer yang jauh dari agen maupun pangkalan harganya bisa lebih tinggi lagi.

Salah satu agen gas non subsidi PT Kerja, Budi mengatakan, kenaikan ini mulai berlaku dari tanggal 25 Desember 2021. Kenaikan di agen, untuk gas 5,5 naik 11 ribu, sedangkan gas 12 kilogram naik 26 ribu. Pada awal kenaikan, pembelian sempat sepi, namun setelah berjalan beberapa hari, penjualan normal kembali.

“Harga gas LPG non subsidi yang naik, tetapi untuk gas bersubsidi ukuran 3 kilogram tidak ada kenaikan. Untuk pasokan seperti biasa dan tidak ada kelangkaan barang,” katanya, Sabtu (8/1/2022).

Salah satu pengusaha angkringan dan Cafe Gantuman Patebon Kendal, Aditya Wibawa mengatakan, kenaikan gas non subsidi dinilai terlalu tinggi, sehingga memberatkan bagi usahanya. Padahal dampak adanya pandemi belum pulih. Secara ekonomi, baru mulai bangkit, tetapi sudah diberikan kejutan yang mematikan.
“Misalkan naik itu paling Rp 5 ribu, tetapi kalau naik Rp 26 ribu itu sih namanya ganti harga,” katanya.