Anak Tukang Sapu Ini Gagal jadi Jaksa Gegara Tes Kesehatan Dapat Nilai 0

by
Ghufron saat berada di Kejati Jatim (Foto: dok. Pribadi)

Anak salah satu tukang sapu di Surabaya, Ghufron, 24 dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) oleh Biro Kepegawaian Kejaksaan, Kamis, 30 Desember 2021, setelah mendapatkan nilai 0 dalam tes Psikotes dan tes Kesehatan.

Ghufron sendiri merupakan mahasiswa beasiswa bidik misi yang mendapatkan gelar Sarjana Hukum (SH). Saat ini, Ghufron berkuliah Magister Hukum di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Lulusan Cumlaude

Sembari berkuliah, Ghufron tetap bekerja menjadi kuli bangunan hingga pelayan restoran. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan akomodasinya selama menjadi mahasiswa.

“Semangat saya cuman satu, mayoritas keluarga saya lulusan SD dan SMP, hanya saya yang berkuliah. Saya memang dari kecil bercita-cita jadi jaksa,” kata Ghufron, Kamis, 6 Januari 2022.

Pemuda yang dinyatakan lulus secara cumlaude dengan IPK 3.74 oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim ini lantas menceritakan prosesnya untuk menjadi penegak hukum.

Lulusan Cumlaude

Sembari berkuliah, Ghufron tetap bekerja menjadi kuli bangunan hingga pelayan restoran. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan akomodasinya selama menjadi mahasiswa.

“Semangat saya cuman satu, mayoritas keluarga saya lulusan SD dan SMP, hanya saya yang berkuliah. Saya memang dari kecil bercita-cita jadi jaksa,” kata Ghufron, Kamis, 6 Januari 2022.

Pemuda yang dinyatakan lulus secara cumlaude dengan IPK 3.74 oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim ini lantas menceritakan prosesnya untuk menjadi penegak hukum.

Saat mendaftar sebagai jaksa, Ghufron pun percaya diri mengikuti tes kesehatan dan psikotes. Sebab, dirinya sudah sering mengikuti tes serupa sejak masuk SMAN 6 Surabaya hingga berkuliah.

Bahkan, Ghufron mengaku sempat lolos hingga tes kesehatan Akademi Militer (Akmil) pada 2016, silam. Saat mengikuti tes di rumah sakit tingkat III Brawijaya, dirinya mendapatkan hasil baik tanpa catatan.

Gagal Tes Kesehatan

“Tinggi badan saya 167 cm, berat badan 62 kg itu sangat ideal. Nilai BMI saya 22.23, hampir sempurna lah. Waktu dites di Rumah Sakit Kodam itu, saya masih ingat kayak pemeriksaan nadi 110/70,” ucapnya.

“Lalu tes mata saya aman. Tes morfologi itu kan diperiksa semua, saya tak ada catatan sama sekali. Makanya saya sangat percaya diri dengan hasil itu tadi,” tambahnya.

Namun, kondisi kesehatan yang disebut prima oleh Ghufron berbuah pahit. Ghufron dinyatakan tidak lulus oleh Biro Kepegawaian Kejaksaan karena tidak memenuhi syarat ditahapan SKB. Dirinya mendapatkan nilai 0 untuk tes psikotes dan tes kesehatan.

Dari 2.013 orang yang mengikuti tes formasi calon jaksa, menurutnya ada 1.200 yang dinyatakan TMS, 196 tidak lolos, dan menyisakan 671 orang yang lolos. “Nah nilai saya itu 61,822. Jika dimasukan ke 671 orang yang lolos, saya masih masuk di peringkat 260an. Anehnya lagi, ada sekitar 405 orang yang nilainya di bawah saya malah lolos,” kata dia.

Tes Mandiri di Atas Rata-rata

Usai dinyatakan tidak lolos, Ghufron lantas mencoba melakukan pemeriksaan mandiri ke Brilian Psikologi dan Laboratorium Klinik Pramita. Hasilnya, Ghufron mendapatkan nilai psikotes 116, di atas rata-rata dan dinyatakan sehat walau mata kirinya terdapat minus sedikit.

“Saya tes dan hasilnya keluar 31 Desember 2021 pagi. Saya dikirimi itu hasilnya di atas rata-rata. Tes psikotes saya angkanya 116,” ujarnya.

Dengan hasil itu, Ghufron pun mempertanyakan kegagalannya di tes psikologis dan tes kesehatan. Sebab, ketika melakukan tes mandiri dirinya mendapatkan hasil yang bagus.

“Dari kedua hasil tersebut saya bertanya, jika nilai saya masuk dan kesehatan serta psikotes saya aman, lantas saya dikatakan TMS itu dari mana? Karena psikolog dan kesehatan waktu saya tes mandiri aman. Kalo seperti ini, apa yang salah? Kan saya tidak menuduh,” tutupnya. (ngopibareng)