Gadis Belia Melamar Pria dengan Mahar Rp500 Juta, Ancaman Pidana Bakal Menanti

by
Tangkapan layar suasana lamaran. Fajar

Hebohnya seorang gadis belia berusia 15 tahun yang melamar seorang pria di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) kini masih hangat dibahas.

Apalagi, usia gadis yang melamar pria senilai Rp500 juta itu masih di bawah umur menurut Undang Undang. Kedua pihak keluarga sepakat meski mempelai wanita belum cukup umur.

Padahal, dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.

Namun, ada beberapa hal yang membolehkan seorang anak di bawah umur untuk menikah. Di antaranya bila anak itu sudah bertanggungjawab, alasan keamanan karena ditinggal orang tua, dan lain sebagainya.

Mempelai pun wajib melakukan dispenasi ke Pengadilan Agama. Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, Muammar Bakry, mengatakan, bila tidak ada izin dari yang bersangkutan, maka orang tua dari mempelai bisa dikenakan pidana.

“Jadi kalau ada anak di bawah umur dinikahkan harus ada izin dulu (di pengadilan agama) dan orang tuanya bisa dipidana kalau dipaksakan gitu,” katanya, Rabu (24/11/2021).

Terkait lamaran yang dilakuakn oleh seorang gadis kepada seorang pria, Muammar Bakry tidak mempermasalahkan pernikahan di Kabupaten Pinrang itu.

Artinya, bila seorang gadis yang melamar seorang pria, itu dibolehkan. Namun tetap mempelai pria juga harus menyiapkan mahar untuk gadis yang melamar dirinya.

“Tradisi fikih itu laki-laki yang menyiapkan mahar. Tradisi budaya, Laki-laki yang menyiapkan mahar dan bukan uang panaik,” katanya kepada jurnalis Fajar.co.id, Rabu (24/11/2021).

“Tapi kalau perempuan itu mau berhati baik menyiapkan maharnya karena mungkin dia kaya, itu tidak masalah tapi tetap laki-laki itu harus menyiapkan mahar (walau sedikit) juga sebagai simbol saja,” sambung Muammar via telepon.

Islam pun tidak membatasi jumlah mahar yang disiapkan. Baik dari mempelai pria maupun wanita. Semuanya tergantung dari kemampuan masing-masing.

“Berdasarkan ayat, laki-laki tetap harus menyiapkan maharnya sekalipun secara simbolik. Sekalipun secara nominal tidak terlalu berarti, tapi nilai itu tetap harus berarti. Bisa saja Alquran maharnya. Tetap harus ada itu,” jelasnya.

Pada zaman nabi, saat itu Khadijah adalah yang melamar nabi. Alasannya, ia kagum dengan sifat dan akhlak nabi. Khadijah pun mengutus seorang perantara untuk menyampaikan ini ke keluarga nabi.

Nabi dan keluarganya pun setuju akhirnya ia didampingi oleh Abu Thalib dan datang ke rumah Khadijah, untuk bertemu dan melangsungkan lamaran tersebut secara resmi. (ishak/fajar)