Takut Jarum Suntik? Nih, AstraZeneca Kembangkan Vaksin yang Disemprotkan Melalui Hidung

by
Ilustrasi. Net

Sejumlah ilmuwan di berbagai belahan dunia berusaha keras mengembangkan ide mengatasi Pandemi COVID-19. Salah satunya melalui vaksin. Berbagai inovasi pun terus dikembangkan. Vaksin COVID-19 intranasal AstraZeneca diklaim memiliki efek samping lebih ringan ketimbang vaksin yang disuntikkan.

Hal itu diungkapkan peneliti vaksin dari Jenner Institute Universitas Oxford, Carina Citra Dewi Joe. Seperti diketahui, Carina adalah ilmuwan asal Indonesia yang ikut mengembangkan formula vaksin AstraZeneca.

“Proyek lain tim kami adalah vaksin intranasal. Selain disuntikkan, kami juga uji klinik lewat jalur lain. Yaitu disemprotkan melalui hidung,” kata Carina, Selasa (16/11).

Menurutnya, hingga saat ini vaksin intranasal baru mendekati uji klinis pertama. WHO (World Health Organization) telah memberikan izin uji klinis kedua. “Hasilnya bagus, efek samping lebih ringan dari yang disuntik,” jelasnya.

Carina menjelaskan masa uji klinik kedua dan ketiga penggunaan vaksin intranasal diharapkan bisa lebih singkat. Sebab, sudah banyak data mengenai penggunaan vaksin AstraZeneca dari penelitian laboratorium maupun pemanfaatan vaksin di berbagai negara. “Kita ikut aturan Badan Kesehatan. Saat ini masih disusun laporannya,” imbuh Carina.

AstraZeneca, lanjutnya, terus memperbaiki proses produksi vaksin. Tujuannya agar bisa memproduksi vaksin dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Produksi vaksin AstraZeneca saat ini telah mendekati dua miliar dosis. Sebanyak 90 persen negara berkembang di dunia telah menggunakannya. (rh/fin)