Budidaya Pohon Gaharu Berkualitas Mulai Diseriusi Petani di Batang

by
PENDAMPINGAN - Pegiat gaharu asal Blitar, Jawa Timur, Dewi Fortuna mendampingi petani gaharu Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Batang, melakukan inokulasi atau penyuntikan serum ke pohon agar maksimal berproduksi.

Pangsa Pasar Timur Tengah dan Eropa, Harga Capai Ratusan Juta

Pohon gaharu atau Agarwood tampaknya masih asing terdengar di telinga masyarakat pada umumnya. Namun perlu diketahui, pohon ini merupakan salah satu tanaman yang terkenal memiliki nilai ekonomi tinggi, harganya hingga ratusan juta rupiah. Seperti apa? M Dhia Thufail, Batang

AKAR, batang, daun, biji, hingga daunnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam produk. Kayunya yang berbau wangi khas, membuat batang pohon gaharu ini biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku dupa ataupun wewangian.

Permintaan pasar komuditas asli dari hutan di Indonesia itu kini kian tinggi, yang kebanyakan berasal dari mancanegara. Baik itu Timur Tengah maupun Eropa. Hanya saja, populasi pohon ini di hutan Indonesia terancam punah.

Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan agar tidak ketergantungan sumber daya alam hutan, kelompok petani pohon gaharu di Kabupaten Batang mulai membudidayakan pohon ini yang ditanam di kebun maupun lahan tidur.

Sebelumnya mereka banyak merasa tertipu. Ratusan pohon gaharu mati akibat ulah oknum yang mengaku paham budidaya. Salah satu korbannya adalah Suprapti (43), warga Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Batang.

Sebanyak 50 pohon yang sudah ditanam bertahun-tahun mati akibat salah penyuntikan dan salah serum. Ia terkena bujuk rayu orang yang mengaku bisa menyuntikkan serum ke pohon gaharu. “50 persen pohon saya mati, awalnya 100 sekarang tinggal 50 pohon. Namanya orang awam,” ujarnya.

Petani lain bahkan ada yang memiliki 100 pohon, semuanya rusak dan mati. Banyak petani lain yang mengalami nasib serupa. “Kalau menanam, bibit kita bisa beli. Tapi proses saja kita tidak tahu, mengolah dan memasarkannya juga tidak tahu. Beruntung, sekarang kami ada pendamping yang bisa membantu kami melakukan proses budidaya gaharu yang berkualitas,” terangnya.

Dalam budidaya ini, mereka mendapat pendampingan dari pegiat gaharu asal Blitar, Jawa Timur, yakni Dewi Fortuna. Pasalnya, tak mudah merawat tanaman bernama latin Aquilaria Malaccensis tersebut. Salah penanganan, pohon tersebut justru tak produktif.

Dewi telah mengupayakan pendampingan sejak 3 bulan terakhir. Pohon-pohon yang sudah rusak akibat salah suntik dan serum bisa kembali produktif. Total, hampir 5.000 pohon yang dibudidayakan sudah tersuntik dan diharapkan bisa dipanen. Selain itu, para petani juga dilatih rekayasa produksi gaharu. Seperti inokulasi atau penyuntikan serum hingga perawatan yang maksimal.

Menurut Dewi, budidaya metode rekayasa yang digunakan adalah menyuntik serum ke pohon gaharu lewat cara dibor. Serum ini bermanfaat merangsang pohon gaharu agar bisa menghasilkan gubal.

“Serum ini saya produksi sendiri, bahannya organik. Pendampingan ini saya lakukan untuk memutus ketergantungan kayu gaharu yang dipanen dari hutan. Saya juga siap menampung hasil produksi gaharu dari petani. Itu yang selama ini mereka bingungkan untuk mencari pasarnya,” terang Dewi.

Pendampingan ini, kata Dewi, juga bertujuan menghindarkan petani dari pelanggaran hukum, mengingat gaharu merupakan tanaman dilindungi.

Dewi mengatakan, pasar produk turunan kayu gaharu sangat luas. Selain diminati di pasar lokal Indonesia, banyak permintaan datang dari Timur Tengah dan Eropa. “Olahan kayu gaharu menjadi produk sangat bernilai ekspor tinggi, misalnya teh daun gaharu, kopi gaharu, sabun herbal gaharu, dupa/hio, kerajinan kayu, dan parfum dari ekstrak kayu gaharu yang disuling,” tandasnya. (fel)