Rob Bikin Warga Tak Nyenyak Tidur, Sewaktu-waktu Air Masuk Rumah

by
TERENDAM - Sebanyak enam desa di tiga kecamatan berada di pesisir pantai di Kabupaten Kendal dilanda rob. Seperti rob terjadi di Kelurahan Bandengan. NUR KHOLID MS

Ada Enam Desa Terdampak, Tambak Gagal Panen

Sudah sepekan ini, enam desa di tiga kecamatan pesisir tengah digenangi banjir. Namun bukan karena tingginya intensitas curah hujan, melainkan terjangan rob akibat pasangnya air laut. Kondisi ini membuat warga sampai tak nyenyak tidur.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, keenam desa kawasan pesisir tersebut, yakni Desa Wonorejo dan Mororejo Kecamatan Kaliwungu, Kelurahan Karangsari dan Bandengan Kecamatan Kota Kendal, serta Desa Kartikajaya dan Wonosari Kecamatan Patebon. Akibat genangan rob, aktivitas warga menjadi terganggu, termasuk sektor pertambakan. Banyak pengelola tambak merugi akibat ikan-ikanya hilang terbawa banjir rob.

Seperti pantauan, rob yang terjadi di Kelurahan Bandengan dan Karangsari merendam ratusan rumah warga. Selain itu juga berimbas pada budidaya ikan tambak. Pasalnya akibat rob tak sedikit petani tambak yang merugi karena gagal panen. “Dua kali sudah gagal panen dua tahun terakhir ini,” kata Musnadi (46), warga Kelurahan Bandengan, Kota Kendal, Senin (15/1/2021).

Musnadi mengungkapkan, pada tahun lalu, banjir rob yang menggenangi tambak membuatnya gagal panen, karena ikan yang dipelihara lari saat rob terjadi. Banjir rob tahun ini kembali terjadi, meski sudah diantisipansi dengan meninggikan tanggul tambak. Ia mengaku pasrah karena 10.000 ekor bandeng siap panen akan hilang. “Diperkirakan 5 ton bandeng hilang semua akibat rob. Gak ada solusi yang pasti dari pemerintah untuk atasi rob” ungkapnya.

Melihat banjir rob yang menggenangi wilayahnya setiap hari, Musnadi hanya bisa pasrah. Dia bersama keluarganya sering terjaga mulai dini hari hingga pagi untuk mengamankan perlengkapan rumah dan membersihkan air lumpur yang masuk ke rumah. Sementara pertambakannya dibiarkan sampai banjir rob mereda. “Rob datang, sudah terjadi sepekan dan langsung tinggi sampai 20 cm di dalam rumah. Bahkan ada wilayah lain sampai 40-50 cm,” ujarnya.

Warga lain, Musyafatun (40) mengatakan, saat musim rob sering was-was saat tidur malam hari. Sehingga membuat tidurnya tak nyaman karena khawatir air masuk ke rumah sewaktu-waktu. Belum lagi pagi harinya disibukkan untuk bersih-bersih sisa lumpur banjir setiap hari. “Bangun tidur, rumah sudah ada air. Kadang panik menyelamatkan barang-barang rumah,” katanya.

Musyafatun berharap, pemerintah daerah tidak hanya membenahi infrastruktur jalan yang ditinggikan. Sedangkan permukiman semakin tenggelam dan terdampak banjir rob dari tahun ke tahun. Dia meminta pemda serius membenahi permasalahan di wilayah sungai dan pantai, saluran air di permukiman, baru membenahi infrastruktur jalan. “Jangan jalannya saja yang dibenahi, tapi ada solusi juga untuk menanggulangi rob ,” ucapnya. (lid)