Pertamina Dampingi Jatuh Bangun Batik Laba-laba Jaga Eksistensi di Tengah Pagebluk

by
JEMUR - Solikhin saat menjemur kain batik pewarna alam di bawah sinar matahari. Novia Rochmawati

WIRADESA – Seperti kebanyakan Pranggok (tempat produksi batik) lainnya, suara musik dangdut terdengar dari pranggok Batik Laba-laba yang berada di Kelurahan Gumawang RT 16 RW O6 Kecamatan Wiradesa. Siang itu, Minggu (31/10/2021), ada dua pekerja yang masih berkutat mewarnai batik produksi Achmad Solikhin ini.

Dengan terampil, kedua pekerja tersebut mulai menunjukkan kemampuan membatik mereka yang sudah dimiliki. Mulai dari memindahkan desain ke kain mori, mewarnai, dan serangkaian proses membatik lainnya. Meskipun hanya dua orang yang masih bertahan di pranggok, Solikhin masih bisa sedikit bernafas lega. Hal ini lantaran usaha batik yang ia rintis sejak 2003 ini perlahan mulai bangkit. Apalagi setelah adanya Pagebluk Covid-19, hampir semua lini ekonomi turut terimbas. Tak terkecuali usaha batik yang sudah turun temurun diwariskan keluarganya.

Di sela-sela aktivitasnya di pranggok, lelaki kelahiran tahun 1979 ini bercerita jika pandemi sempat membuat usaha batiknya terpuruk. Mulai dari penurunan orderan, dan membengkaknya biaya operasional. Hal ini membuatnya harus putar otak, dengan mengurangi jumlah pekerja di pranggoknya. Beberapa pekerja pun dipekerjakan dari rumah untuk menekan biaya produksi. Terlebih Batik Laba-laba sendiri memiliki ciri khas yang harus tetap dijaga, yakni autentisitas pewarna alam yang digunakan. Sehingga banyak yang harus dikorbankan di tengah keterbatasan pagebluk untuk tetap menjaga eksistensi dan ciri khas Batik Laba-laba.

“Branding kami sebagai batik pewarna alam sudah melekat. Sehingga tidak bisa jika dengan keterbatasan ini kami justru beralih ke hal lain. Apalagi di tengah isu lingkungan dan gencarnya program go green. Kami rasa kami harus tetap menjaga segmentasi batik pewarna alam, karena kami juga menjadi pelopor batik pewarna alam di Pekalongan. Kami akhirnya memberlakukan work from home untuk sebagian pekerja. Karena jika bekerja dari rumah kami bisa menghemat biaya operasional. Tapi konsekuensinya, kami tidak bisa menuntut mereka untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu,” imbuhnya.

Tak dipungkiri, pada awal mulanya merambah dunia batik pewarna alam, Solikhin sempat terkendala pemasaran karena sempitnya pasar. Namun perlahan ia memiliki mitra yang kerjasamanya terjalin hingga saat ini. Hal ini pun tak luput berkat adanya pinjaman modal usaha yang ia dapatkan sebagai mitra UMKM binaan Pertamina. Dengan bunga pinjaman yang cukup rendah, diakuinya mampu mendukung biaya produksi batiknya.

“Dengan pinjaman ini membantu saya untuk membayarkan upah buruh-buruh saya dan operasional lainnya. Terlebih satu batik itu harus melewati berbagai proses, dan butuh sekitar minimal satu bulan untuk pengerjaan satu lembar kain batik. Sementara sistem pengupahan di sini biasanya dilakukan per hari ataupun tiap seminggu sekali, setiap Kamis Sore,” ujarnya.

Tak hanya pinjaman modal, ada beberapa keuntungan lain yang ida dapatkan. Salah satunya Batik Laba-laba berkesempatan untuk dipamerkan ke skala yang lebih luas. Bahkan sudah ada beberapa event tingkat provinsi ataupun nasional yang diikuti Batik Laba-laba saat menjadi mitra UMKM binaan Pertamina.

Di tengah pandemi Covid-19 pun, pihaknya turut dibantu dengan kredit pinjaman yang fleksibel. Terlebih di tengah pasang surut permintaan orderan batik pewarna alam di tengah Pagebluk, fasilitas ini sangat membantunya menjalankan roda bisnis batiknya.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho membenarkan jika di tengah pandemi ada beberapa bantuan yang diberikan untuk UMKM binaannya. Seperti adanya pendampingan oleh konsultan, dan dimungkinkannya fasilitas rescheduling.

“Mitra binaan yang terdampak Covid-19 yang kesulitan dalam mengangsur akan dilakukan pendampingan oleh konsultan kami. Dalam pendampingan tersebut akan dilakukan konsultasi dan rescheduling apabila diperlukan. Agunan mitra binaan tetap kami simpan dan akan kami kembalikan apabila mitra binaan sudah melunasi angsuran,” imbuhnya.

Anggaran pendanaan usaha mikro dan kecil (tidak termasuk usaha menengah) Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga tahun ini adalah Rp 7,5 miliar yang dilakukan dengan prinsip channeling dengan PT Pertamina (Persero).
Hingga kini anggaran terserap untuk Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga sudah terserap hingga Rp 7,2 miliar.

“Pendanaan usaha mikro dan kecil ini cukup terjangkau dari sisi jasa administrasi ataupun marjin jual beli syariah setara 6 persen per tahun. Mitra binaan terpilih bisa mendapatkan pembinaan berupa keikutsertaan pameran internasional dan nasional, peningkatan kapasitas, sertifikasi, dan sebagainya. Ini semua sebagai wujud dukungan dan kolaborasi Pertamina untuk mendorong UMKM lokal agar bisa berdaya saing global,” pungkasnya. (nov)