Semua Wilayah di Kota Santri Rawan Bencana

by -
RAKOR - Pemkab Pekalongan menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Potensi Bencana Angin, Banjir dan Longsor di Kabupaten Pekalongan Tahun 2021-2022 di Aula Lantai 1 Setda, kemarin.

**Hasil Mapping Pemkab Pekalongan

KAJEN – Dalam rangka menghadapi ancaman potensi bencana alam saat musim hujan, Pemkab Pekalongan menyelenggarakan Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Potensi Bencana Angin, Banjir dan Longsor di Kabupaten Pekalongan Tahun 2021-2022 di Aula Lantai 1 Setda, kemarin.

Berdasarkan hasil mapping yang telah dilakukan, sebagian daerah di Kabupaten Pekalongan memiliki potensi bencana yang cukup besar. Untuk daerah Pantura misalnya, bencana yang kerap terjadi setiap tahunnya adalah banjir ataupun rob. Sementara di daerah atas, bencana yang perlu diwaspadai berkaitan dengan tanah longsor, angin puting beliung atau angin ribut, termasuk kekeringan pada saat musim kemarau.

Hal ini seperti disampaikan Penjabat (Pj) Sekda Kabupaten Pekalongan Budi Santoso, dalam sambutannya saat membuka rakor itu, kemarin pagi.

Dari potensi bencana tersebut, Pj Sekda mengimbau para Camat untuk melakukan persiapan penanganan bencana mulai dari pencegahan (prabencana) hingga pasca bencana, termasuk pengelolaan manajemennya. “Dari pencegahannya, kita harus mengupayakan, menghilangkan atau mengurangi timbulnya sesuatu ancaman yang berkaitan dengan potensi bencana diatas. Bagaimana kita memitigasi bencana untuk melihat agar ancaman yang terjadi atau dampak yang ditimbulkan dapat seminimal mungkin dan jangan sampai menimbulkan korban. Ini yang kita harapkan. Maka semuanya harus kita persiapkan, termasuk kesiapsiagaan yang lain. Dan hari ini adalah bagian dari kesiapsiagaan,“ papar Pj Sekda Budi Santoso.

Pj Sekda menekankan bahwa pertumbuhan hunian baru di daerah risiko bencana seperti di Kecamatan Tirto yang merupakan daerah banjir dan rob perlu diminimalisir dengan kebijakan tata ruang menjadi daerah bukan hunian. Namun hambatannya masyarakat sudah terlanjur tinggal di daerah rawan bencana tersebut. Untuk mensiasatinya, Budi Santoso mengungkapkan relokasi adalah menjadi sebuah penanganan akhir.