14 Kali Gempa di Salatiga Hari Ini Dipicu Sesar Aktif

by
Ilustrasi gempa. Pojoksatu

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, membeberkan penyebab rentetan gempa di Salatiga, Jawa Tengah hari ini, Sabtu (23/10).

Berdasarkan catatan BMKG, gempa bumi sudah 14 kali mengguncang Salatiga, Banyubiru, dan Ambarwa hari ini.

“Hasil monitoring BMKG hingga pukul 10.30 WIB sudah tercatat 14 kali gempa di Banyubiru-Ambarwa-Salatiga,” tulis Daryono melalui akun Twitternya @DaryonoBMKG.

Menurut Daryono, seluruh rentetan gempa Ambarawa-Salatiga baik gempa utama dan gempa susulannya berpusat di komplek Gunung Telomoyo.

Telomoyo adalah gunung yang terletak di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang. Gunung ini memiliki ketinggian 1.894 m dpl dan merupakan gunung api strato belum pernah tercatat meletus.

Daryono menyebut gempa Salatiga dipicu sesar aktif, yakni sesar Merapi Merbabu dan Sesar Rawa Pening.

“Mengingat Salatiga, Banyubiru, Bawen, dan Ambarawa dekat sesar aktif, yaitu Sesar Merapi Merbabu dan Sesar Rawa Pening maka perlu dilakukan edukasi mitigasi gempabumi seperti pentingnya bangunan tahan gempa/ramah gempa, cara selamat saat terjadi gempa, karena gempa kuat dapat terjadi kapan saja,” imbuhnya.

Daryono membagikan gambar yang menunjukkan sesar aktif di Salatiga, Ambarawa, dan Banyubiru.

“Diduga kuat jalur sesar aktif inilah sebagai sebagai pemicu rentetan gempa Ambarawa, Banyubiru, Salatiga, dan Bawen sejak pagi dinihari tadi,” tambahnya.

Daryono mengingatkan gempa besar pernah terjadi di Salatiga, Banyubiru, dan Ambarawa.

“Catatan sejarah gempa kuat dan merusak, di Salatiga, Banyubiru, dan Ambarawa, yaitu: Gempa 24 Sep 1849, Gempa 17 Juli 1865, Gempa 23 Okt 1865, Gempa 22 Apr 1866, Gempa 10 Oktober 1872, dan terakhir Gempa Sumogawe, Getasan 2,7 pada 17 Februari 2014 merusak beberapa rumah diikuti dentuman keras,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie menyebut rentetan gempa di Salatiga dan Ambarawa dipicu aktivitas sesar Merapi-Merbabu.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal Merapi-Merbabu,” kata Setyoajie Prayoedhie. (one/pojoksatu)