Pemkab Pekalongan Serbu Rokok Ilegal

by
BERI BANTUAN: Pemkab Pekalongan memberikan bantuan sarana prasarana paska panen untuk kelompok tani petani tembakau di Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono.

Pemkab Pekalongan bersama Bea Cukai bertekad memberantas peredaran rokok ilegal di Kota Santri dengan menggalakkan gempur rokok ilegal. Sosialisasi, edukasi, penelusuran informasi perihal barang kena cukai, dan operasi pasar dilaksanakan untuk menekan peredaran rokok ilegal.

Kasubag Sumber Daya Alam, Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Pekalongan, Anjar Ardiansyah, kemarin, menyatakan, sejak tahun 2014, Pemkab Pekalongan tiap tahunnya memperoleh dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Kebijakan penggunaan DBHCHT mengacu pada PMK Nomor 206. Di antaranya untuk kegiatan sosialisasi dan pemberantasan cukai ilegal.

“Sesuai PMK 206 kegiatan pemberantasan tahun 2021 ini ada di Bagian Perekonomian. Tahun lalu di Satpol PP. Bagian Perekonomian sebagai koordinator, pelaksanaannya tetap di Satpol PP,” terang dia.

Kegiatan yang dilaksanakan, lanjut dia, pencarian informasi barang kena cukai dan operasi pasar. Dalam pencarian informasi cukai ilegal, Satpol PP sering menelusuri ke desa-desa. Sasarannya di antaranya toko-toko kelontong dan warung-warung yang menjual rokok.

“Sampai sekarang pencarian informasi kita tidak menemukan rokok ilegal. Mungkin peredarannya kadang ‘door to door’. Pada saat petugas turun ke warung-warung dan toko-toko kelontong, di sana rokok yang dijual rata-rata rokok legal. Dalam beberapa tahun ini belum menemukan rokok ilegal di Kabupaten Pekalongan,” ungkap Anjar.

Hanya saja, kata dia, informasi dari Bea Cukai di Kabupaten Pekalongan ada rokok ilegal. Karena Bea Cukai juga melakukan pencarian informasi tentang rokok ilegal di daerah.

“Ada tim dari Bea Cukai yang jalan, dari Kabupaten Pekalongan juga jalan. Dari Bea Cukai jaringannya lebih luas karena sudah biasa menangani hal ini,” kata dia.

Untuk memperkuat penggalian informasi barang kena cukai terutama rokok ilegal di Kabupaten Pekalongan, pihaknya berencana pada tahun 2021 ini akan mengadakan pelatihan tentang pencarian informasi rokok ilegal. Pelatihnya dari Bea Cukai. Peserta pelatihan direncanakan dari Satpol PP dan melibatkan kasi trantib kecamatan.

“Ini masih rencana di tahun ini karena kegiatannya kan baru di perubahan. Karena dari beberapa kali, beberapa tahun ini, Satpol PP jarang menemukan, dan dari Bea Cukai ada informasi makanya kita akan kolaborasi bagaimana untuk pencarian informasi itu bisa mendapatkan hasil,” ujar dia.

Sementara itu, untuk kegiatan sosialisasi diserahkan ke OPD teknis, yakni Dinkominfo Kabupaten Pekalongan.

Ia menyebutkan, secara kasat mata, rokok legal bercukai. Rokok ilegal biasanya tidak bercukai. Jika pun ada cukai, tintanya seperti luntur. Karena cukainya palsu.

“Rokok tanpa cukai itu biasanya polosan. Atau cukainya palsu hasil print-print-nan yang kualitasnya tidak bagus,” terang dia.

Rokok ilegal, kata dia, mereknya biasanya aneh. Kemasannya pun dibuat mirip dengan rokok legal. Merek rokok ilegal diplesetkan tapi mirip dengan rokok aslinya. Namun, harga rokok tidak menjadikan patokan rokok itu legal atau ilegal.

“Banyak rokok murah yang bercukai juga. Jadi rokoknya pangsa menengah ke bawah harganya tidak sampai Rp 10 ribu. Tapi rokok ini bercukai juga.

Harga tidak menjamin itu palsu atau tidak,” kata dia.

Untuk pabrik rokok besar, kata dia, pakai mesin. Sedangkan rokok murah biasanya linting tangan secara manual.

Di Kabupaten Pekalongan, ujar dia, tidak ada pabrik rokok ilegal. Pada saat pandemi, banyak gudang tembakau yang tutup. Imbasnya, petani tembakau di Petungkriyono tidak bisa menjual tembakaunya ke gudang di Temanggung. “Makanya banyak petani di Petungkriyono yang menjemur tembakaunya sendiri dan dijual di sekitaran wilayah itu.

“Dari Bea Cukai masih membolehkan karena dijualnya tidak dikemas secara bagus. Tembakau pun kalau penjualannya dalam kemasan yang bagus ada cukainya juga. Cuma kalau dijualnya biasa antar tetangga atau skala lokal masih bisa ditolerir,” ujar dia.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau, pada tahun 2021 ini Pemkab Pekalongan memberikan bantuan alat perajang tembakau untuk petani di Petungkriyono. Di Petungkriyono, kata dia, ada tiga desa yang warganya menanam tembakau. Yakni di Desa Tlogopakis, Tlogohendro, dan Simego. “Untuk tahun ini bantuannya di Tlogopakis,” kata dia.

Dikatakan, petani tembakau selama ini menjual tembakau dalam bentuk daun basah. Jika dirajang, maka harga jualnya akan lebih tinggi. Harapannya, kesejahteraan petani tembakau akan meningkat. (ADV)