Santri Ponpes Assalafiyah Annahdliyyah Mahir Budidaya Kopi

by
TINJAU - Sekda Moh Toha saat meninjau stan kopi Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyyah Curugsewu Patean.

KENDAL – Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyyah Curugsewu Patean terus mengembangkan usaha kopi yang dirintis bersamaan dengan berdirinya pesantren tersebut. Pondok pesantren yang didirikan oleh Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Patean pada tahun 2015 ini menekuni usaha kopi, mulai dari pembibitan, menanam, hingga mengolah biji kopi menjadi kemasan yang siap dijual.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyyah, Muhammad Zainuddin mengatakan, awal merintis usaha tahun 2015, sudah membuat kopi kemasan, namun belum ada label mereknya. Usaha kopi yang dikerjakan bersama para santri terus dikembangkan. Pada tahun 2019, setelah memiliki peralatan yang lebih lengkap, produk kopi mulai dikemas dengan label yang menarik dengan nama NU Coffee. “Usaha kopi ini murni dikelola oleh pondok, bukan milik perorangan,” katanya, Selasa (19/10/2021).

Saat ini pesantren tersebut juga membuka kafe yang dikelola para santri yang telah mengikuti pelatihan barista, sekaligus tempat penjualan. Untuk promosi dan pemasarannya lewat jamaah yang datang di pondok, dan pada acara-acara pengajian. Tidak mau ketinggalan, pemasarannya juga dilakukan secara online. “Dipasarkan lewat pengajian. pesantren punya 23 jadwal pengajian yang setiai hari harus keliling, sekalian jualan kopi,” ungkapnya.

Promosi juga dilakukan melalui bazar, seperti pada Bazar Lomba One Pondok one Produk tingkat Kabupaten Kendal yang digelar di Pondok Rijalut Tholibin Pegandon. Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyyah, selain menampilkan produk kopi kemasan, juga membuka stand kafe yang ditangani para santri yang ahli barista. Di Pondok Pesantren Assalafiyah Annahdliyyah saat ini ada sekitar 200 santri. Para santri bisa belajar budidaya kopi, hingga meracik kopi ala barista.

Sementara itu, Sekda Kendal, Moh Toha mengatakan, produk dari pondok pesantren banyak yang bagus seperti produk UMKM pada umumnya. Sekda berharap agar terus dikembangkan, sehingga bisa bersaing juga secara online. “Produk pesantren banyak yang bagus. Jadi, harus dikembangkan seperti produk UMKM, supaya bisa dipasarkan online,” katanya. (lid)