Banjir Rob Tak Tertangani, Potensi Kerugian Rp17,64 Triliun

by
TANAM BIBIT BAKAU - BPDAS Pemali Jratun, CDK IV Pekalongan, dan KT Benawa Sekar Mulyorejo melakukan penanaman bibit bakau di pesisir Pekalongan.

Salah satunya juga untuk mendukung desa wisata mangrove di Mulyorejo. Di desa itu, kata dia, ada suatu kawasan mangrove yang dulunya adalah tambak-tambak yang tergenang banjir rob. Para tokoh dan pemuda di situ merencanakan untuk mengembangkannya menjadi suatu kawasan wisata. “Saya kira tidak salah. Tujuan kami menanam mangrove tujuan utamanya untuk pencegahan abrasi dan menghijaukan lingkungan. Jika itu dibuat wisata sah-sah saja karena memang tujuannya awal saat berdiskusi dengan teman-teman di Mulyorejo untuk sekolah mangrove. Tujuannya agar masyarakat bisa berperan serta secara langsung atau tidak langsung untuk menanam mangrove agar melindungi abrasi,” ujarnya.

Namun tujuan utamanya memang untuk penghijauan dan cegah abrasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat melalui desa wisata tersebut. Apalagi persoalan abrasi di pesisir perlu penanganan serius.

“Menurut studi yang ada yang kami sadur dari teman-teman. Yang kemarin juga ada penelitian dari teman-teman ITB bahwa cekungan Pekalongan turun setiap tahunnya. Kondisi turun itu memasukan air laut ke daratan. Dalam usaha kemampuan manusia untuk menahan itu dengan cara penanaman mangrove. Salah satunya. Itu upaya konservasi vegetatif. Yang lebih ekstrem lagi dengan bangunan konservasi teknis. Itu yang kita coba untuk menahan itu walaupun itu kondisi alam,” tandasnya.

Pihaknya juga melakukan pemberdayaan masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa lebih adaptif menghadapi kondisi alam tersebut. (had)