70% Siswa Pernah Alami Perundungan

by
PENGGERAK - SMP Negeri 4 Cepiring menjadi salah satu sekolah penggerak anti perundungan di Kabupaten Kendal. Siswa peserta agen pencegahan perundungan pentaskan drama anti perundungan.

*Program Sekolah Penggerak Mulai Digulirkan

KENDAL – Praktis perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan di Indonesia ternyata masih cukup tinggi. Sebuah jajak pendapat dari program kerjasama Kemendikbud dengan Unicef bahkan mencatatkan hasil yang cukup mengejutkan, bahwa 70 persen siswa pernah mengalami perundungan di lingkungan sekolahnya.

Karena tingginya kasus perundungan tersebut, maka Kemendikbud bekerjasama dengan Unicef mulai menggulirkan program sekolah penggerak anti perundungan dengan menunjuk sekolah-sekolah di kabupaten/kota sebagai pilot project. Di Kabupaten Kendal, salah satu yang ditunjuk adalah SMP Negeri 4 Cepiring. Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupa program Anti Perundungan Roots, menyusul masih tingginya praktik perundungan di dunia pendidikan.

Melalui program ini siswa yang lolos seleksi ditugaskan menjadi agen perubahan pencegahan perundungan, sehingga praktik bully diharapkan tidak lagi terjadi di lingkungan sekolah.

Kepala SMPN 4 Cepiring, Sutrisno mengatakan, bullying atau perundungan terjadi tidak hanya pada siswa, bahkan antar guru juga bisa terjadi, sehingga dengan adanya program Roots ini akan memperkecil prosentase korban perundungan. Sebab dosa besar pada dunia pendidikan adalah kekerasan seksual dalam sekolah dan perundungan.

“Sebagai pilot project, maka tentu akan menyebarkan program ini ke sekolah lain, sebab di Kabupaten Kendal baru ada 6 sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah penggerak, sehingga nantinya akan di kembangkan di sekolah lain,” kata Sutrisno usai pelaksanaan Bintek Program Roots Anti Perundungan yang digelar sekolahanya, kemarin.