Soal Agama Vs Budaya, ASBO Njadum Bedah Lirik Lagu ‘Mendung Tanpo Udan’

by
BEDAH - Bidang ASBO PC IPM Kangkung menggelar diskusi membedah lirik lagu 'Mendung Tanpo Udan' dengan adanya pertentangan pelaku budaya dan penganut agama yang dimunculkan oleh sebuah aliran.

KENDAL – Munculnya aliran kepercayaan yang coba mempertentangkan budaya dengan agama (Islam) beberapa waktu lalu, menjadi bahan diskusi ASBO Njadum yang dibidani Bidang Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO) PC IPM Kangkung, di Bourjuis Cafe Kendal, belum lama ini. Uniknya, dinamika keberagamaan mutakhir itu juga dikaji melalui bedah lirik lagu yang juga masih viral,yakni “Mendung Tanpo Udan” milik Ndarboy Genk.

Sebagai pemateri, Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Jawa Tengah, Rifqi Khoirul Anam, melihat lagu itu menjelaskan tentang dua fenomena yang tidak bisa dipertemukan, seperti pada lirik “Aku moco koran sarungan, Kowe belonjo dasteran”. Sementara membaca koran adalah tradisi kaum pemikir, belanja menjadi simbol konsumerisme. “Dua fenomena ini tidak bisa dipertemukan,” ucapnya.

Sementara pada lirik “Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan” bisa menggambarkan dua arus ideologi dunia yang saling bertentangan. Ada kelompok sosialisasi (kiri) yang menggunakan literasi dan budaya untuk menggalang massa, dan kelompok fundamentalis yang memiliki paham yang bertolak belakang dengan seni budaya yang bersifat abstrak.

“Bagi kita yang berpandangan moderat, jalan tengahnya adalah memanfaatkan seni budaya menjadi alat dakwah, tanpa mengurangi nilai keislaman itu sendiri. Dulu Sunan Kalijaga juga memperkenalkan Islam melalui kesenian wayang,” jelas Rifqi.

Sementara Ketua PC IPM Kangkung, Riski Figo Lubis menambahkan, salah satu kecenderungan anak-anak muda adalah nongkong santai. Kebiasaan itu perlu dikemas dalam nuansa ilmiah melalui diskusi yang cukup berbobot. “Dengan acuan nongkrong yang digemari anak muda itu kita ajak tak hanya sekedar nongkrong tapi bisa melahirkan pemikiran,” katanya. (lid)