Polemik Tanah Pusaka Diklaim Sudah Rampung

by
DIMANFAATKAN - Inilah penampakan sebagian areal tanah pusaka yang telah lama dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam.

BATANG – Kepala Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Daryono mengeklaim polemik tanah pusaka di wilayahnya sudah rampung.

“Sudah rampung, sekarang status tanah pusaka adalah tanah negara, dan saat ini dikelola pemerintah desa,” ujarnya ditemui di lokasi, Minggu (12/9/2021).

Tanah pusaka adalah tanah tak bertuan yang status kepemilikannya belum diketahui. Luas tanah pusaka di Desa Tegalsari kurang lebih mencapai 158 hektar. Selama bertahun-tahun, tanah ratusan hektar itu diklaim beberapa pihak, mulai dari pihak yang mengaku ahli waris hingga Pemerintah Desa Tegalsari.

Bahkan, Kementerian ATR/BPN Republik Indonesia beberapa kali turun langsung untuk menyelesaikan polemik tanah pusaka itu. “Klaim terakhir Januari 2020 lalu, setelah itu hingga kini tidak ada lagi,” tutur Daryono.

Ia mengatakan, tanah itu saat ini dimanfaatkan masyarakat untuk menanam padi. Pemerintah Desa Tegalsari menerapkan sistem sewa tahunan per hektar. “Untuk lahan jenis kelas I, biaya sewanya Rp 7 juta per hektare per tahun. Lalu lahan kelas II Rp 6 juta per hektare per tahun,” jelasnya.

Total ada 200 penggarap tanah pusaka tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan aset.