BPJS Kesehatan Bantu Jemput Kesehatan Keluarga Franstri di Tengah Keterpurukan Ekonomi saat Pandemi

by -
WAWANCARA - Franstri dan Yuyun saat diwawancarai Radar Pekalongan di kediamannya, di Petodanan Proyonanggan Tengah Batang. Novia Rochmawati

BATANG – Sepulang mengajar, Franstri Yulli SA (36), tengah bergulat di dapur rumahnya yang sederhana di Petodanan Proyonanggan Tengah Batang. Lelaki yang juga salah satu guru honorer SMK swasta di Batang tersebut tengah mengemas bakso olahan yang dibuat bersama istrinya, Yuyun Ernawati (28). Sehabis Asar, keduanya pun bersiap untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Meski tak banyak untung, kini keduanya telah memiliki pelanggan. Yang penting saat ini bagi mereka adalah ada pemasukan tiap hari meski tak seberapa.

Usaha sampingan ini sudah mereka tekuni hampir dua bulan terakhir. Sebelumnya berbagai macam jenis wirausaha mulai dari bakso kuah keliling, es tiga rasa, ataupun sosis bakar sepi peminat, bahkan merugi. Mereka pun terus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Apalagi gaji Franstri sebagai seorang guru honorer di sekolah swasta turut dipangkas lantaran menurunnya murid baru di sekolahnya.

Pandemi juga turut membuat Yuyun kehilangan pekerjaannya sebagai penjual jajan di kantin sekolah. Sehingga satu-satunya pemasukan hanyalah dari gaji guru Franstri yang kurang dari Rp500 Ribu. Padahal sebelum pandemi, Franstri masih dapat tambahan penghasilan dari jasa badut keliling. Sayangnya semenjak pandemi, belum ada yang menyewa jasanya sebagai badut.

Kini perlahan keduanya mulai bangkit untuk mencari peluang bertahan hidup. Tak hanya perkara ekonomi saja yang membuat mereka terpuruk di tengah pandemi Covid-19. Rupanya permasalahan kesehatan pun dialami keduanya. Bahkan hingga kini, Yuyun masih harus rutin seminggu sekali check up di rumah sakit swasta di Kabupaten Batang.

Beruntung, mereka masih diberikan kemudahan dalam menjemput kesehatan mereka. Segala biaya pengobatan mereka ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Mulai dari biaya opname akibat Radang Empedu Yuyun yang kambuh, Penyakit Lambung yang diidap Franstri dan juga biaya persalinan buah hatinya yang kedua, Nafisa yang baru berumur 6 bulan.

Franstri menjelaskan, sebelum pandemi ia dan keluarganya memang terdaftar dalam kepesertaan mandiri. Akan tetapi pasca pemasukannya yang minim, ia diajukan oleh Dinkes dan Dinsos Batang sebagai penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan.

“Alhamdulillah, sekarang untuk BPJS Kesehatan sudah ditanggung pemerintah. Kami semakin dipermudah untuk menjemput kesehatan keluarga kami. Apalagi di tengah pandemi lahir anak kedua kami, Nafisa yang saat ini berusia enam bulan. Kemarin dia juga sempat sakit panas. Dan Alhamdulillah setelah masuk rumah sakit sudah sehat kembali. Semuanya ditanggung BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, tidak ada perbedaan layanan yang diberikan baik semasa menjadi peserta mandiri atau ketika menjadi peserta PBI. Bahkan di tengah pandemi ini ia dan keluarganya dimudahkan dengan kehadiran mobile JKN. Dimana untuk antrean periksa di rumah sakit dapat dilakukan secara online. Sehingga tidak perlu berlama-lama untuk mengurus administrasi di rumah sakit.

“Kami pakai JKN mobile. Hanya saja memang didaftarkan melalui handphone saudara kami. Karena handphone kami agak eror dan susah support. Yang jelas Alhamdulillah semakin dimudahkan dalam menjemput kesehatan bagi kami sekeluarga,” pungkasnya.

Diwawancarai di lain tempat, Plt Kepala Dinkes Batang, dr Didiet Wisnuhardanto menjelaskan pihaknya terus bersinergi dengan BPJS Kesehatan. Melaui APBD II Pemkab Batang berkomitmen dalam membantu iuran BPJS bagi warganya yang kurang mampu. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, dimana banyak keluarga yang kehilangan sumber penghasilan, sehingga untuk pengobatan perlu dibantu oleh pemerintah daerah.

Per Agustus ini, sudah ada sekitar 33.365 warga Batang yang terdaftar kepesertaan PBI BPJS Kesehatan dari APBD II. Untuk anggaran pembayaran iuran ini saat ini didukung dengan adanya dana bagi hasil cukai dari tembakau. Pihaknya mengaku, jika memang memenuhi persyaratan, maka warga yang kurang mampu dapat mengajukan diri sebagai peserta PBI BPJS Kesehatan.

“Jika memenuhi syarat, seperti adanya SKTM, dan ketika disurvei rumahnya masuk kategori rumah kurang mampu, makan bisa diajukan untuk kepesertaan PBI BPJS Kesehatan. Bisa melalui Puskemas, Dinkes Batang Ataupun Dinsos Batang,” pungkasnya. (nov)