Meski Ber-IQ Rendah, Windi Lihai Rancang Busana Wanita

by
Keterbatasan IQ Tak Halangi Kreativitas Windi
BERFOTO - Windi Si Perancang Busana, berfoto bersama karyanya. EKA ISDITYA / RADAR PEKALONGAN

*Keterbatasan IQ Tak Halangi Kreativitas Windi

Dibalik kekurangan seseorang, seringkali tersimpan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hal itulah seperti yang dialami oleh Windi Setyoningsih. Apa Seperti apa ? EKA ISDITYA, Kabupaten Pekalongan

Keterbatasan IQ Tak Halangi Kreativitas Windi
BERFOTO – Windi Si Perancang Busana, berfoto bersama karyanya.
EKA ISDITYA / RADAR PEKALONGAN

Meski dikenal memiliki IQ rendah, Windi Setyoningsih (23), warga Dukuh Blenadung RT 001 RW 007, Desa Purworejo, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan memiliki bakat luar biasa. Ia dikenal lihai menggambar rancangan busana wanita yang begitu bagus. Padahal, Windi belajar kemampuan menggambarnya tersebut secara otodidak dengan hanya melihat dari televisi.

Kemampuan Windi dalam merancang sebuah rancangan buasana gaun wanita ini menjadi viral di media sosial facebook di antaranya yang diviralkan oleh akun facebook Fauzan Mukrim. Selain facebook, rupanya bakatnya juga mulai viral dalam media sosial lain seperti instagram. Pasalnya, Windi selama ini dikenal sebagai ‘cah bodo’, lantaran hasil tes IQ-nya dibawah 90. Namun, kemampuannya menggambar berbagai desain gaun perempuan tak kalah dengan desain profesional. Tak pelak melalui karya-karya yang diciptakan, ia menuai banyak pujian.

“Windi dulu pernah sekolah sampai kelas 3 SD terus keluar. Dia kesehariannya hanya melukis dan membantu ibunya bekerja melipat perban,” tutur Evi, salah satu tetangganya, Minggu (28/1) kemarin.

Windi merupakan anak pasangan dari Karsidin dan Suniti. Mereka dari keluarga kurang mampu, dan hidup di dalam rumah yang sudah direhab melalui program perumahan swadaya tahun 2014 silam oleh pemerintah. Sejak putus sekolah, Windi mulai kelihatan bakat menggambarnya. Dengan berbekal buku gambar dan pensil, Windi setiap hari menggambar rancangan busana, terutama gaun perempuan. Windi awalnya melukis di buku tulis biasa, namun oleh tetangganya akhirnya diberi buku gambar.

Dengan belajar secara otodidak, tanpa bimbingan guru dan orang lain, Windi terus mengasah bakatnya tersebut. Windi hanya belajar dengan melihat televisi. Maka tak heran, ratusan rancangan busana perempuan yang cantik dan anggun sudah diciptakannya. Rancangan-rancangan busana itu dikumpulkan dalam beberapa buku yang dimilikinya. Windi sendiri mengaku mengagumi desainer nasional Ivan Gunawan. Oleh karena itu, dirinya berharap bisa bertemu dengan sang idolanya tersebut.

“Saya pernah sekolah sampai kelas 4 SD. Saya latihan (menggambar) sendiri untuk hobi. Biasanya satu hari, satu gambar. Saya cita-cita ingin jadi desainer kayak Ivan Gunawan,” tutur Windi.

Selain menyalurkan hobinya menggambar, Windi kini juga membantu kedua orang tuanya dalam mencari nafkah. Windi membantu ibunya untuk membuat lipatan perban dari kain kasa. Hasil dari kerja sambilan yang biasa dilakukan di depan rumah ini sedikit membantu ayahnya yang bekerja sebagai buruh sablon. Setiap hari dari upah melipat perban ini, Windi mendapatkan upah Rp 7 ribu – Rp 10 ribu.

Sementara itu, ibu Windi, Suniti, mengakui anaknya itu mulai menggambar sejak putus sekolah. Kegiatan kesehariannya dihabiskan untuk menggambar, terutama gambar busana. Dia berharap, dengan bakatnya itu, Windi bisa meraih kesuksesan sehingga bisa membantu orang tuanya. “Sekolah hanya sampai kelas 4 SD. Tidak melanjutkan sekolah karena sering diejek teman-temannya,” ujar sang ibu. Meski dengan berbagai keterbatasan, ternyata tak menghalangi Windi untuk mencari bidang lain hingga menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. (mg5)

Penulis: Eka Isditya | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin