Bukan Vaksinasi, Profesor Unair Sebut Cara Ampuh Tangani Covid-19

by
Tangkpan Layar Prof Nidom Chaerul Anwar (Foto: Youtube)

Viral potongan video di media sosial Youtube berisi dialog Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Profesor Chaerul Anwar Nidom dengan mantan Menteri Kesehatan era SBY, Siti Fadilah Supari. Dalam video itu Prof Nidom menyebut covid-19 memiliki struktur yang kompleks. Kendati demikian, sifatnya low pathogenic (tipe kurang ganas) dan penganannya mudah.

Kematian Pasien Covid-19 karena Komorbid

Prof Nidom menyebut dia berani membuktikan pernyataanya. Pria yang menganjurkan pengkonsumsian empon-empon itu lantas memberikan penjelasannya.

“Saya berani membuktikan, strukturnya tidak membunuh. Kematiannya tidak seganas flu burung yang 100 persen. Covid ini membunuhnya cuma 5 persen, itu pun karena komorbid (penyakit penyerta). Sebenarnya perlindungannya cukup pakai masker,” tegasnya.

Rumah Sakit untuk Pasien Komorbid

Pria berkacamata itu menyebut, baiknya rumah sakit dikhususkan untuk penderita Covid dengan komorbid serta pasien yang bergejala. Dengan demikian beban rumah sakit bisa teringankan. Selain itu, fokus lain yang diperhatikan adalah virus itu sendiri.

“Jadi nantinya kami betul-betul perhatikan virus ini kan cerdik ya, dia mau kemana. Sekarang sudah banyak varian. Sebetulnya bukan virusnya yang ganas, hanya saja dia ada aliran ke darah itu. Manifestasinya tergantung di mananya dia berada” jelasnya.

Pantau Komorbid dan Buat Fortifikasi Vitamin

Dalam diskusi itu Menkes Fadilah membeberkan hasil penelitian di Universitas Indonesia. Dalam penelitian itu ditemukan pasien Covid-19 yang meninggal kebanyakan kaitannya dengan komorbid. Mendengar hal itu Prof Nidom menanggapi dengan menyarankan kebijakan yang harus diambil pemerintah.

“Seharusnya pemerintah itu memonitor komorbid masyarakat. Mau diapakan, tesnya digratiskan atau bagaimana. Atau diberi vitamin? Jadi ada risetnya tersendiri,” katanya.

Perempuan asal Solo itu lantas menimpali, “Misalnya komorbid dikasih vitamin D3, karena di sebuah penelitian kalau vitamin D3 dalam darah kurang dari 20 persen itu mati. Tapi kalau 20-30 sakit dibawa rumah sakit, mau ngos-ngosan kek, termehek mehek kek, masih hidup. Di atas 30 OTG”, katanya.

Perempuan kelahiran 1949 kemudian melanjutkan, “Angka ini mbok ya dicermati. Kalau nggak percaya kita ulang lagi untuk populasi Indonesia. Kalau itu memang terbukti, itu bisa untuk pegangan. Kalau gitu semua komorbid diperiksa”.

Mendengar pernyataan perempuan 71 tahun itu, Guru Besar Biologi Molekular Unair itu mengiyakan. Dia kemudian menyarankan adanya fortifikasi vitamin untuk para pasien dengan komorbid. “Betul, kalau perlu ada fortifikasi untuk yang komorbid. Misalnya dulu ada fortifikasi vitamin A,” katanya.

Fortifikasi sendiri adalah menambahkan suatu bahan aktif tertentu berupa mikronutrien (vitamin atau mineral) pada suatu bahan makanan. Sehingga kandungan mikronutrien meningkat. Fortifikasi dapat melengkapi kebutuhan zat gizi anak, seperti zat besi, seng, omega-3 dan berbagai vitamin lainnya. Terlebih mencegah defisiensi terhadap vitamin atau mineral tertentu.

Perlindungan Pakai Masker

Prof Nidom menambahkan untuk perlindungan dari covid, publik hanya perlu disiplin 5M. “Menurut saya publik itu harus mentaati 5M, masker, masker, masker, masker, dan empon-empon,” katanya dengan tertawa.

Alumnus Institut Pertanian Bogor itu menyebut masker merupakan alat pertahanan utama. Sayangnya, penggunaan masker di Indonesia dinilai mengganggu karena masyarakat tidak terbiasa. Berbeda dengan negara Jepang, penggunaan masker sata sakit lantaran mereka tidak ingin menulari orang lain.

“Ini budaya yang belum disentuh, kalau kita pakai masker sebelah kita tersinggung. Padahal itu untuk melindungi diri kita dan orang lain. Ini harusnya disosialisasikan. Di Jepang kematiannya rendah karena disiplin masker dan memperhatikan komorbid,” imbuhnya.

Virus akan Mati di Lingkungan Luar Tubuh

Alumnus Unair itu juga menuturkan dengan memakai masker, virus akan mati saat berada di luar tubuh manusia. Prof Nidom lantas memberikan contoh virus yang menempel di gagang pintu.

“Selama kita menutup hidung dan mulut kita, selama virus tidak masuk ke saluran pernapasan di mana di sana ada reseptor, virus akan mati di luar. Mati lingkungan luar. Misal ada virus di handle pintu, selama kita menutup mulut dan hidung dengan masker itu aman. Selama tangan kita nggak masuk ke hidung dan mulut tidak papa,” katanya. (ngopibareng)