Kota Santri Zona Merah

by
RAPAT KOORDINASI - Bupati Asip Kholbihi langsung memimpin rakor pengendalian Covid-19 karena saat ini Kota Santri masuk zona merah.

Bupati Pekalongan Langsung Pimpin Rakor Pengendalian Covid-19

Kota Santri ‘outbreak’ Covid-19. Ledakan kasus meningkat tinggi dalam beberapa hari terakhir ini. Sehingga Kota Santri saat ini masuk zona merah.

Berdasarkan data di http://corona.pekalongan.go.id, update tanggal 20 Juni 2021, pukul 23.57 WIB, total terkonfirmasi tembus 3652 kasus. Dengan rincian, 95 orang dirawat, 316 orang isolasi mandiri, 3040 orang sembuh, dan 201 orang meninggal dunia.

Menyikapi ledakan kasus Covid-19, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi langsung memimpin rapat koordinasi pengendalian Covid-19 di Aula Lantai 1 Setda, Senin (21/6/2021). Rakor diikuti Pj Sekda Bambang Irianto, unsur Forkompinda, dan OPD terkait.

Mengawali rakor, Bupati mengajak para peserta untuk berdoa bersama agar diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dilindungi dari Covid-19. “Kita lama ndak baca doa sehingga merah,” ucap Bupati.

Ditandaskan, situasi sekarang di Kabupaten Pekalongan membutuhkan penanganan yang lebih maksimal dan terukur lagi. Pasalnya, sejak tiga hari ini Kabupaten Pekalongan masuk zona merah.

“Yang paling penting kita ambil langkah. Pertama di tingkat masyarakat. Apapun kita masih memedomani agar protokol kesehatan kita jaga secara ketat,” ujar dia.

Bupati menyampaikan terima kasih ke Polres Pekalongan dan instansi lainnya yang terus melakukan operasi, bahkan menutup tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan massa. “Seperti hari Minggu (car free day) ditutup,” kata Bupati.

Sekda juga mengambil langkah-langkah internal. ASN, lanjut Bupati, ternyata banyak yang terpapar, sehingga ambil langkah untuk isolasi mandiri.

“Dindikbud persiapan untuk tatap muka. Ini harus diantisipasi,” katanya.

“Positif kita sudah naik. Zona merah. Mulai jumat kita sudah memasuki zona merah. Parameter apa yang menjadikan kita naik zona merah. Kita rumuskan secara konkret langkah-langkah strategis. Selama ini kita cukup lama di zona orange. Apakah ini karena ada pasien dari luar, mortalitas tinggi, vaksinasi masih rendah, atau adanya klaster baru,” ungkap dia.

Bupati juga meminta agar mempeesiapkan diri jika terjadi outbreak kasus. “Jangan sampai tidak siap jika terjadi outbreak. Tidak siap ini maksudnya ICU ndak siap, ruang perawatan ndak siap. Semuanya harus diantisipasi,” ujar dia.

Ia berharap, tren kasus bisa menurun, sehingga Kabupaten Pekalongan kembali masuk zona orange, kuning, bahkan hijau. “Hari ini tidak ada zona hijau di Kabupaten Pekalongan. Semua sudah merah,” terang dia.

Bupati juga minta PPKM mikro menjadi perhatian, khususnya di Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni.

“Kalau ada PPKM mikro kita harus ada anatominya. Saya minta ada atensi khusus yang PPKM mikro, khususnya di Kedungpatangewu,” lanjut dia.

Menurutnya, harus ada langkah- langkah konkret agar zona merah ini bisa menuju ke tren orange, kuning, bahkan hijau.

“Jika ada kerumunan ya kita tegur, tidak pakai masker ya diingatkan. Kita tidak boleh menyerah. Ikhtiar harus maksimal dan sesuai prokes dan disertai doa. Insya Allah Juli akan turun,” imbuhnya.

Wakapolres Pekalongan Kompol I Ketut Tutut, menyampaikan, kepolisian dengan instansi terkait selama ini melaksanakan kegiatan yang berupaya meminimalisir Covid-19, baik kegiatan pencegahan, penanganan, dan pendisiplinan. “Siang malam di tempat mana saja kalau ada kerumunan seperti di kafe-kafe, tempat nongkrong seperti angkringan pun kita sisir. Kesadaran masyarakat dalam prokes, terutama kerumunan dan masker,” katanya, karena pembagian masker gratis dinilai tidak efektif untuk menyadarkan masyarakat dalam mematuhi prokes.