Honor Minim, Guru Paud Putar Otak Penuhi Kebutuhan

by
BERBAGI CERITA - Ketua Himpaudi Kecamatan Petungkriyono, Endah Wilantah, saat membagikan kisahnya sebagai pendidik Paud.

PETUNGKRIYONO – Menjadi pendidik di jenjang Pendidikan Usia Dini (Paud) ternyata tidaklah mudah, terlebih untuk wilayah yang jauh dari pusat kota. Tidak hanya dituntut totalitasnya untuk mendidik anak-anak belia, honor yang jauh dari memadai pun memaksa mereka harus putar otak sekadar untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Begitulah pengalaman yang dikisahkan Guru Paud Kasih Bunda di Desa Telogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Endah Wilantah, kepada Radar, Senin (7/6/2021) kemarin. Apa yang disampaikan Endah pun bukanlah sekadar curahan pribadi, mengingat dirinya juga berstatus Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Kecamatan Petungkriyono.

“Yang jelas, problem utama yang mungkin merata dialami para guru Paud ini adalah status dan kesejahteraan yang minim. Tetapi khusus bagi kami yang mengabdi di kecamatan terpencil, kondisi infrastruktur jalan yang juga tak mulus, utamanya akses Desa Yosorejo menuju Telogopakis,” ungkapnya.

Ikhwal kesejahteraan jangan ditanya. Menurut Endah, dirinya dan sejawat hanya mendapatkan honor Rp 250 ribu/bulan dari pemda. Pun honor tersebut diterimakan dengan cara rapel setiap 3-4 bulan.

“Insya Allah kami tetap ikhlas mengabdi untuk menjadikan anak-anak Paud bisa mengeksplorasi usia emasnya secara optimal. Tetapi sebagai manusia, sebagai ibu rumah tangga, jujur saja honor Rp 250 ribu ini amat jauh dari memadai. Apalagi ini kan menyangkut profesi, menyangkut kompetensi,” terang Endah.