Guru SMP Meninggal Usai Disuntik Vaksin Covid-19, Keluarga Sayangkan Tindakan Tim Medis

by
ilustrasi mayat. Foto : pixabay.

Guru di SMPN Baubau, Sulawesi Tenggara, La Hinu (58), meninggal dunia setelah disuntik vaksin Covid-19. Keluarga menyebut La Hinu meninggal demikian.

Anak sulung La Hinu, Rahmat Hidayat (35), mengatakan pihak keluarga mengatakan La Hinu memiliki riwayat diabetes. La Hinu juga disebut selalu melakukan pemeriksaan rutin untuk diabetesnya.

“Sebelum divaksin itu Bapak sehat-sehat saja. Kami juga pihak keluarga sudah wanti-wanti kepada Bapak bahwa beliau tidak bisa divaksinasi karena ada riwayat penyakit diabetes yang diderita kurang-lebih 20 tahun,” kata Rahmat, Sabtu (22/5/2021).

Vaksinasi terhadap La Hinu disebut dilakukan pada Kamis (20/5). Rahmat mengatakan saat itu La Hinu awalnya berangkat ke sekolah sebelum pukul 08.00 Wita.

Pihak keluarga yakin La Hinu tidak akan divaksinasi karena punya riwayat diabetes. Pihak keluarga pun menyayangkan tindakan petugas vaksinasi yang tetap menyuntik La Hinu.

“Yang vaksin itu tim dari Puskesmas Wolio. Alasannya itu mereka vaksin karena sudah di-screening dan gula darahnya normal. Lalu ada juga penerima vaksin sebelumnya yang menderita diabetes sama seperti riwayat bapak saya tapi tidak ada masalah, sehingga bapak saya divaksin,” katanya.

La Hinu divaksinasi bertepatan dengan jadwal kontrol ke rumah sakit. La Hinu kemudian tiba di rumah sekitar pukul 11.30 Wita.

La Hinu dilarikan ke RS Siloam sekitar pukul 13.30 Wita dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Tahun 2019 sampai 2020 itu bapak saya kontrol sama dr Lukman. Nanti setelah beliau jadi Kepala Rumah Sakit Baubau, baru bapak saya kontrol di dokter lain. Kami sayangkan kenapa pasien punya riwayat diabetes tapi diloloskan untuk divaksin,” ujarnya.

Lukman merupakan jubir Satgas COVID-19 Baubau.

Dia menegaskan rumor La Hinu meninggal karena asma akut adalah hoax. Dia mengatakan La Hinu tidak memiliki riwayat asma.

Dari surat bukti vaksinasi, terlihat nama vaksin yang digunakan adalah CoronaVac dengan nomor batch 24002721.

Dia mengaku pihak keluarga belum menentukan apakah akan melakukan langkah hukum atas meninggalnya La Hinu atau tidak.

“Kita selesaikan dulu tujuh harinya Bapak. Nanti setelah itu kita lihat,” ucapnya.

Wartawan sudah mencoba menghubungi jubir Satgas COVID-19 Baubau, Lukman, soal pemberian vaksin kepada La Hinu.

Namun pesan singkat lewat WhatsApp dan panggilan telepon belum direspons. (ral/int/pojoksatu)