Hari Kartini, 28 Perempuan Luncurkan Buku Kebaya

by

Penerbit Pustaka Obor Indonesia meluncurkan Buku Kebaya Melintasi Masa karya Soesi Sastro dkk secara virtual, pada Rabu 21 April 2021.

Ketua Yayasan Obor Indonesia Kartini Nurdin mengapresi Soesi Sastro yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyair perempuan Indonesia yang menerbitkan buku hasil karyanya bersama perempuan lainnya, di tengah pandemi Covid-19.

“Kebaya Melintasi Masa yang ditulis oleh 28 Penulis perempuan dari berbagai latar belakang tentang kebaya menggambarkan betapa kayanya budaya kita, dan dengan terbitnya buku ini tentu akan menambah khazanah perbukuan di Indonesia khususnya mengenai kebaya dan budaya berkebaya dari masa ke masa. Terbitnya buku ini bisa mendorong kajian dan penelitian dan pengamatan mengenai budaya kita, khususnya mengenai eksistensi kebaya serta  perempuan di Indonesia. Selamat Hari Kartini!,” demikiian Kartini Nurdin dalam sambutannya.

Hadir sebagai nara sumber lainnya adalah, Prof Dr. Endang Caturwati, MS. budayawan N. Syamsuddin Ch atau Bang Sem, Asri Welas aktris sinetron dan penggiat kebaya serta Lana T Koentjoro Ketua DPP Perempuan Indonesia Maju.

Buku yang ditulis Soesi Sastro dkk ini merupakan kumpulan tulisan ringan tentang kebaya dan pengalaman berkebaya lintas masa dan beberapa tips terkait busana tersebut. “Yang menarik adalah, buku ini hasil dari belajar menulis para perempuan pecinta kebaya dalam sebuah kelas belajar menulis di saat pandemi, jadi menurut saya Soesi Sastro ini ‘provokator’ kreatif mendorong kawan-kawannya untuk menulis sesuatu yang dekat dengan penulisnya,” jelas Prof Endang Caturwati salah satu nara sumber saat peluncuran buku.

Menurut Bang Sem, kebaya tidak saja dipandang sebagai busana tetapi adalah sebuah kebudayaan bagi sebuah bangsa. Kebaya itu harmoni bagi pemakainya. Buku ini menarik karena proses menulisnya ada yang menggunakan tulisan tangan baru di tuangkan dalam mesin.

“Ini yang perlu ketelatenan dan kesabaran penyunting, apalagi tulisannya dari berbagai tinjauan, seperti kebaya dan wisata, gaya hidup, psikologi, seni, milenial dan lainnya. aspek kerjasama, bahu membahu dengan berbagai pihak yang terkait,” beber Bang Sem.

Sedangkan Asri Welas berpendapat bahwa dengan banyaknya perempuan berkebaya sehari-hari maka ini akan membantu para UKM karena bahan kebaya pasti banyak dicari orang dan secara ekonomi akan bangkit.

Kebaya sebagai salah satu busana Nasional akhir-akhir ini menggeliat kembali pamornya. Banyak dipakai berbagai kalangan dan usia. Untuk menjadikannya sebagai salah satu budaya yang diakui oleh dunia, masih diperlukan penelitian dan tulisan-tulisan tentang kesejarahan kebaya ini. (red)