Pernikahan Dini Berisiko Tinggi

by
ida Sulistiyani

KAJEN – Angka pernikahan dini di Kabupaten Pekalongan masih cukup tinggi. Padahal pernikahan dini berisiko dari segi kesehatan. Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan dr Ida Sulistiyani, kemarin, menyatakan, dampak pernikahan dini terhadap kesehatan di antaranya, terjadinya kehamilan tidak diinginkan, aborsi, hamil dengan preeklamsi, dan hamil dengan anemia. Dampak lainnya, persalinan yang lama dan sulit, perdarahan, depresi post partum/baby blues, dan kelahiran prematur, BBLR, stunting, dan cacat bawaan. “Dampak lainnya bisa menyebabkan kematian baik ibu maupun bayi,” terang dia.

Tingginya kasus pernikahan dini dan persoalan kekerasan terhadap anak juga menjadi perhatian khusus pada Musrenbang tingkat kabupaten.

Plt Kepala Dinas PMD P3K dan PPKB Kabupaten Pekalongan Sri Yuliasih menyatakan, untuk menekan angka pernikahan dini pihaknya bersama Kemenag dan organisasi perempuan seperti PKK, Muslimat, Fatayat, Rifaiyah, dan lainnya bekerja sama terkait sosialisasi pernikahan dini.

Sementara itu, kekerasan anak pada tahun 2020 ada 20 kasus. Dengan rincian, kekerasan terhadap anak perempuan ada 13 kasus, dan 7 kasus kekerasan terhadap anak laki-laki. “Kita punya tim untuk penanganan kasus kekerasan terhadap anak ini,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, di tengah pandemi Covid-19, angka pernikahan dini di Kota Santri melonjak. Dalam tiga bulan saja di tahun 2021 ini sudah ada 145 permohonan dispensasi nikah muda di Pengadilan Agama Kabupaten Pekalongan. Mayoritas dispensasi ini diajukan pihak perempuan.

Selama tahun 2020, total ada 568 permohonan. Oleh karena itu diperkirakan akan ada peningkatan kasus pernikahan dini di tahun 2021 ini.

Data tersebut diungkapkan Panitera Pengadilan Agama (PA) Kajen, Tokhidin, Kamis (25/3/2021). (had)