3.417 Anak Tidak Sekolah

by
PENJELASAN - Kepala Bapelitbang Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar, saat menjelaskan jumlah anak yang tidak sekolah di wilayahnya.

*Pandemi jadi Tantangan Bagi Gerakan Kudu Sekolah

KAJEN – Pandemi Covid-19 menjadi tangangan tersendiri bagi Gerakan Kudu Sekolah di Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan data di Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, jumlah anak tidak sekolah di Kota Santri hingga tahun 2020 masih cukup tinggi, yakni 3.417 anak.

“Sebanyak 4.346 anak tidak sekolah kategori DO, tidak melanjutkan dan belum atau tidak pernah sekolah,” terang Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan Yulian Akbar, Kamis (15/4/2021).

Disebutkan, dengan Gerakan Kudu Sekolah sebanyak 589 anak sudah dikembalikan ke sekolah pada tahun 2019, dan 340 anak pada tahun 2020. Menurutnya, pandemi Covid-19 ikut mempengaruhi gerakan kudu sekolah. “Pandemi ngaruh, apalagi dengan sekolah online. Ini tantangan bagi pelaku pendidikan bagaimana menggerakan kembali program ini,” ujar Akbar.

Ribuan anak tidak sekolah (ATS) ini dengan berbagai macam latar belakang penyebabnya, mulai dari faktor kultural, ekonomi, psikologis, hingga kondisi geografis. Mereka tersebar di 19 kecamatan.

“Penyebabnya macam-macam antara lain faktor ekonomi dan sisi anak itu sendiri. Ada faktor internal dan eksternal anak. Arahnya ke PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat -red), sehingga PKBM akan diperkuat lagi,” katanya.

Melalui perencanaan pembangunan yang mengusung tema ‘Peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Melalui Gerakan Kudu Sekolah’, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyabet penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2021 dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Akbar mengatakan, perencanaan ini merupakan ‘problem solving’. Pemkab Pekalongan mencoba memecahkan permasalahan pembangunan. Selain persoalan kemiskinan, kata dia, adalah persoalan IPM.