Dampak Pandemi, Angka Gizi Buruk Naik jadi 16 Persen

by
HOME VISIT - Bupati Batang, Wihaji, saat melakukan home visit pada pasien anak stunting di Desa Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Jumat (9/4/2021).

*Kesadaran Orang Tua jadi Kunci Pencegahan

BATANG – Angka gizi buruk atau stunting pada anak di Kabupaten Batang terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, terlebih di masa pandemi Covid-19.

Dokter spesialis anak RSUD Kalisari Batang, dr Tan Evi Susanti SpA merinci, berdasarkan data dari tahun 2017 angka stunting sudah mencapai 4.958 anak dari total 51.553 anak atau 9,62 persen.

Kemudian pada tahun 2018, angka stunting mengalami penurunan yakni 9,35 persen atau 4.921 anak dari total 53.653 anak. Lalu, tahun 2019 angka stunting naik menjadi 10,27% atau 5.303 dari total anak 51.622 anak.

“Tercatat pada Februari 2020 angka prosentasenya naik 10,50 persen atau 4.686 anak dari total 44.637 anak. Lalu Agustus hingga Desember 2020 naik 16,71 persen atau 5.915 anak dari total 35.397 anak. Data ini merupakan hasil rekap Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM),” kata dr Tan Evi, saat ditemui di RSUD Kalisari Batang, Selasa (13/4/2021).

Ia juga mengatakan, stunting adalah kondisi yang bersifat ireversible atau tidak dapat diperbaiki setelah anak mencapai usia 2 tahun. Dijelaskannya, masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

“Stunting hanya bisa dicegah sebelum anak berusia 2 tahun. Tapi pengertian seperti ini walaupun sudah ada edukasi dan solusi tapi tetap orang tuanya tidak mau kalau anaknya diperbaiki gizi buruknya dan ini menjadi kendala kita,” kata dr Tan Evi.