Selama Pandemi, Sekolah Bebas Pakai Kurikulum

by
UJIAN AKHIR - Sejumlah siswa SMPN 240 melakukan ujian akhir sekolah secara tatap muka dengan memperhatikan protokol kesehatan di Jakarta, Selasa (6/04). Beberapa siswa melakukan ujian secara tatap muka dengan diawasi guru dikarenakan banyaknya siswa yang mengalami kendala teknis saat melakukan ujian secara luring dirumah yang menyebabkan mereka harus datang ke sekolah.

JAKARTA – Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Jumeri menyatakan, bahwa Kemendikbud memberikan kebebasan bagi satuan pendidikan untuk menggunakan kurikulum saat pembelajaran tatap muka dimulai.

Saat ini, kurikulum yang boleh dipakai adalah Kurikulum 2013, kurikulum darurat yang sudah disediakan Kemendikbud, dan kurikulum yang dibuat sendiri oleh sekolah selama masa pandemi ini.

“Selama pandemi sekolah-sekolah sudah berinisiatif untuk membuat penyederhanaan kurikulum. Hal ini boleh dilakukan dan bisa digunakan saat pembelajaran tatap muka sudah dilakukan,” kata Jumeri di Jakarta, Jumat (9/4/2021).

Jumeri menambahkan, Kemendikbud juga telah mengeluarkan kurikulum darurat pada tahun 2020 untuk diterapkan selama masa pandemi. Jumeri menjelaskan, kurikulum tersebut masih berlaku dan tidak ditarik.

“Satuan pendidikanlah yang paling mengerti irama perkembangan anaknya, kemudian kebutuhan belajar dan siswanya, situasi belajar dari setiap sekolah akan berbeda,” ujarnya.

Jumeri menekankan, sekolah pada hari pertama pembelajaran tatap muka, guru lebih berfokus pada memperbaiki psikologis siswa. Sebab, ada kemungkinan guru merasa memiliki utang materi selama pandemi dan justru langsung mengajar secara utuh.

“Pada hari pertama pembelajaran tatap muka, saya berpesan agar tidak dilakukan pembelajaran membabi buta,” pungkasnya. (der/fin)