Kelamaan PJJ, Dua Siswa putus Sekolah

by
BELAJAR - Siswa SMPN 9 Pekalongan sedang melakukan kegiatan tatap muka di masa pandemi.

*SMPN 9 Pekalongan

KOTA – Akibat terlalu lama sekolah menggunakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena pandemi Covid-19, dua siswa kelas IX dari SMPN 9 Pekalongan menghilang dan tidak dapat dihubungi oleh pihak sekolah.

Saat dikonfrmasi Radar Pekalongan, Kamis (17/3/2021), Kepala SMPN 9 Pekalongan Dwiani Arbiyanti membenarkan dua siswa dari SMPN 9 Pekalongan tidak aktif dalam mengikuti PJJ dan bahkan tidak ada kabar sama sekali. Terakhir, informasi yang berhasil dihimpun oleh sekolah dengan cara home visit kedua siswa tersebut sudah tidak berada di rumah.

“Untuk siswa yang pertama, ia diajak ayahnya bekerja ke Pemalang setelah itu kami kehilangan kontak dan sama sekali tidak bisa dihubungi hingga saat ini. Sedangkan siswa yang kedua, ia adalah anak broken home dan ketika PJJ intensitas bertemu dengan guru juga berkurang, akhirnya lepas kendali dan informasi yang kami peroleh siswa tersebut bergabung dengan anak punk. Kami sudah berusaha membujuk namun susah untuk kembali karena sepertinya sudah terpengaruh dengan teman-temannya,” ungkap Dwi.

Menurutnya ini adalah salah satu dampak negatif PJJ dari sekian dampak negatif yang ditimbulkan. “Terus terang, karena terlalu lama PJJ ini justru lebih banyak muncul dampak negatifnya dari pada positifnya. Apalagi untuk anak-anak SMP yang mereka dalam proses pencarian jati diri dan membutuhkan pendampingan yang optimal untuk perkembangannya, baik dari segi akademis, non akademis, serta mentalnya,” imbuhnya.

Selain itu, belum lagi masalah-masalah yang muncul dalam proses pembelajaran. Baik dari segi keterbatasan sarana prasana, penyampaian materi yang kurang optimal karena proses daring, hingga pantaun tugas-tugas siswa yang akhirnya banyak yang terselesaikan tepat pada waktunya.

“Kondisi anak tidak sama. Ada mereka yang penuh keterbatasan terlebih di daerah pinggiran ya. Suppport orang tua yang mungkin juga kurang optimal sehingga anak jadi lepas kontrol. Dari kondisi ini kita belajar untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berkoordinasi dengan siswa,” ucap Dwi.

Pihaknya berharap, pandemi bisa segera berakhir sehingga Kegiatan Belajar Tatap Muka bisa segera terlaksana untuk mengobati rasa rindu siswa dan guru.(mal)