Jembatan Putus, Warga Harus Memutar, Pemda Siapkan Langkah Darurat

by
Kepala DPUPR memberikan penjelasan terkait penanganan jembatan Kali Petung yang putus.

BATANG – Warga Desa Satriyan kini harus memutar apabila hendak pergi ke Desa Bulu, Kecamatan Banyuputih, ataupun saat hendak ke jalur Pantura untuk bepergian. Pasalnya, Jembatan Kali Petung yang menjadi akses utama untuk memperpendek jarak tempuh, Sabtu (27/02/2021) pagi tadi terputus.

“Jembatan tersebut merupakan akses penghubung utama warga Satriyan menuju Desa Bulu dan juga wilayah Kecamatan Banyuputih dan Pantura. Akibat putusnya jembatan, warga harus memutar sekitar 8 kilometer,” ungkap Kepala Desa (Kades) Satriyan, Rochmadi.

Rochmadi menjelaskan, penyebab putusnya jembatan Kali Petung sendiri karena pondasi utama jembatan sudah terkikis air. Selain itu, bronjong bawah jembatan juga bergeser, sehingga jembatan mengalami putus dan tidak bisa di lewati.

“Jembatan tersebut merupakan akses penghubung utama warga Satriyan menuju Desa Bulu dan juga wilayah Kecamatan Banyuputih dan Pantura. Akibat putusnya jembatan, warga harus memutar sekitar 8 kilometer,” terang Rochmadi.

Akibat putusnya jembatan, aktifitas perekonomian dan juga warga sangat terganggu. Pasalnya, untuk mengangkut hasil bumi, tentunya ada biaya tambahan, karena harus memutar.

“Bahkan bepergian ke Batang ataupun daerah lain, warga harus memutar. Karena itu, kami berharap ada bantuan dari Pemkab Batang untuk membantu warga,” harap Rochmadi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Nurseto mengungkapkan, pihaknya begitu mendapat laporan pada Sabtu pagi, langsung meluncur ke lokasi.

“Kita bersama tim datang langsung ke lokasi untuk melakukan langkah-langkah antisipasi atau langkah darurat untuk mengatasi dampak dari terputusnya jembatan. Nantinya hasilnya akan kita laporkan ke Bupati, dan beliau yang memutuskan langkah darurat apa yang akan diambil,” tandas Nurseto didampingi Kabit Jalan dan Jembatan, Endro Nugroho.

Kabid Jalan dan Jembatan DPUPR Batang, Endro Nugroho mengungkapkan, pihaknya masih melakukan kajian terkait pembangunan kembali jembatan. Namun saat ini yang terpenting adalah menyiapkan langkah darurat agar aktifitas warga tidak terlalu terganggu.

“Kita siapkan beberapa langkah darurat, dan nanti pak Bupati yang memutuskan. Namun setidaknya nantinya harus ada jembatan darurat yang setidaknya bisa dilalui kendaraan roda dua, agar bisa membantu warga,” beber Endro.

Ketika disinggung kebutuhan anggaran untuk pembangunan jembatan darurat, Endro menyebut nilainya hingga milyaran rupiah. “Jembatan ini statusnya jembatan desa, sehingga tidak memungkinkan jika pembangunya harus menggunakan dana desa. Karena itulah, kita akan lakukan kajian agar kedepan jembatan bisa dibangun kembali secara permanen,” tandasnya. (don)